Ads - After Header

Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Global

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (3/11/2026). Mata uang Garuda tercatat merosot tipis 4 poin atau setara dengan 0,02 persen, sehingga berakhir di level Rp18.160 per dolar AS. Meskipun penurunan ini tergolong kecil, kondisi pasar tetap dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik yang kian memanas di berbagai belahan dunia.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh sentimen eksternal yang sangat volatil. Kabar mengenai serangan militer Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm milik Iran menjadi salah satu pemicu utama kegelisahan investor di pasar global. Menurut laporan yang beredar, serangan tersebut diklaim bersifat defensif guna membatasi ruang gerak Iran dalam mengganggu kapal-kapal komersial yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz.

Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Situasi di Timur Tengah ini menciptakan dinamika yang sangat kompleks bagi pasar keuangan. Di satu sisi, ketegangan militer meningkatkan risiko global, namun di sisi lain, terdapat sinyal-sinyal diplomasi yang mencoba meredam konflik. Ibrahim dalam risetnya mencatat bahwa pada hari Senin, Donald Trump sempat melontarkan pernyataan yang ambigu mengenai kelanjutan ancaman militer terhadap Teheran. Trump memberikan sinyal bahwa kesepakatan damai dengan Iran masih mungkin untuk dicapai, meskipun ketidakpastian tetap menyelimuti langkah kebijakan luar negeri AS tersebut.

Hingga saat ini, upaya komunikasi antara pihak Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konfrontasi masih terus diupayakan. Proses negosiasi melibatkan pihak penengah dari Qatar yang telah mengajukan usulan-usulan baru. Meski demikian, belum ada terobosan signifikan yang dihasilkan dari rangkaian pembicaraan tersebut. Di pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah telah menerima mandat khusus dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk membuka ruang dialog perdamaian.

Selain konflik di Timur Tengah, perhatian dunia juga tertuju pada upaya de-eskalasi perang Rusia-Ukraina. Amerika Serikat dijadwalkan akan memfasilitasi pertemuan delegasi kedua negara tersebut di Abu Dhabi pada 10-11 November mendatang. Pertemuan ini diharapkan mampu membahas kerangka keamanan pasca-perang dan langkah-langkah untuk menghentikan pertumpahan darah.

Bagi pelaku pasar di Indonesia, kondisi ini menambah beban ketidakpastian. Selain faktor geopolitik, fokus pasar saat ini juga tertuju pada hasil pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat yang berlangsung pada 3 November. Hasil pemilu ini diprediksi akan sangat memengaruhi arah kebijakan ekonomi AS ke depan. Selain itu, para investor tengah menanti rilis data ekonomi penting guna memprediksi arah kebijakan suku bunga The Fed, yang secara langsung akan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah di masa mendatang. Melansir laporan dari chapnews.id, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada bagaimana dinamika politik global dan kebijakan moneter AS berkembang dalam beberapa pekan ke depan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer