Ads - After Header

Tahanan Demo Tewas di Rutan, Keluarga Temukan Luka Misterius!

Ahmad Dewatara

Tahanan Demo Tewas di Rutan, Keluarga Temukan Luka Misterius!

Chapnews – Nasional – Surabaya – Kematian seorang tahanan demo bernama Alfarisi bin Rikosen (21) di Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo, pada Selasa, 30 Desember 2025, memicu gelombang pertanyaan dan kecurigaan dari pihak keluarga. Mereka menemukan sejumlah luka lebam misterius di tubuh jenazah, mengindikasikan adanya dugaan kekerasan selama penahanan.

Zaldi Maulana, Kepala Biro Kampanye Hak Asasi Manusia KontraS Surabaya, pada Kamis (8/1), mengungkapkan kejanggalan yang ditemukan keluarga saat memandikan jenazah Alfarisi. "Kedua telinga Alfarisi berwarna merah. Lalu, ada luka lebam merah kebiruan di dada sebelah kanan yang melingkar hingga ke punggung belakang," terang Zaldi kepada chapnews.id.

Tahanan Demo Tewas di Rutan, Keluarga Temukan Luka Misterius!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dugaan kekerasan ini bukan kali pertama mencuat. Sebelum wafat, Alfarisi disebut sempat mengeluhkan tindakan kekerasan saat masih ditahan di Mapolrestabes Surabaya. Ia diduga dipukul dan ditendang di bagian dada serta tubuh lainnya, memicu gejala serius seperti sesak napas, kejang-kejang, hingga gejala stroke yang menyebabkan bibir "petot" dan kesulitan berbicara. Berat badannya pun anjlok 30-40 kilogram dalam empat bulan, tanpa adanya perawatan medis yang layak dari pihak kepolisian maupun rutan.

"Keluarga Alfarisi pernah bercerita kalau dia sempat mendapati kekerasan pada saat ditahan di Polrestabes. Ya, pemukulan, ditendang, dan lain-lain di bagian dada hingga dia sesak," tambah Zaldi, mengutip keterangan keluarga. Ia juga menambahkan, "Tahanan lain juga mengatakan Alfarisi di Polrestabes itu pernah mengalami gejala stroke. Gejala stroke jadi ya bibirnya petot, terus tangannya itu kayak kiting. Sampai Alfarisi itu enggak bisa ngomong R. Ya, itu setelah dipukuli."

Keluarga Alfarisi juga merasa tertekan saat tiba di Rutan Medaeng. Mereka tidak mendapatkan penjelasan medis mengenai penyebab kematian, justru diminta segera menandatangani empat berkas di atas materai yang berisi pernyataan tidak akan menuntut kematian Alfarisi. KontraS juga meluruskan klaim rutan yang menyebut Alfarisi memiliki riwayat kejang sejak kecil, menegaskan bahwa keluarga tidak pernah menyampaikan hal tersebut.

Menanggapi hal ini, Kepala Rutan Klas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, mengonfirmasi kematian Alfarisi dan menyebut diagnosa medis sebagai gagal pernapasan. Ia mengklaim, setelah berkoordinasi dengan keluarga, diketahui bahwa Alfarisi memiliki riwayat kejang sejak kecil. Informasi dari rekan sesama tahanan juga menyebut Alfarisi pernah mengalami gejala serupa saat di tahanan kepolisian. Tristiantoro membantah tegas adanya kekerasan di dalam rutan dan menyatakan keluarga telah menerima kepergian Alfarisi serta memilih untuk tidak melakukan autopsi.

"Oh, enggak ada [kekerasan], Mas. Tadi pun kami sampaikan juga ke kakaknya kalau memang ini ‘kami menerima’ keluarga kandungnya tadi. Jadi tadi itu sudah kita sampaikan kalau ada pertanyaan lagi atau mau disampaikan monggo gitu tadi. Keluarganya bilang ‘cukup’ katanya," tegas Tristiantoro.

Sementara itu, Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Rina Shanty Dewi, memilih irit bicara saat dimintai konfirmasi perihal dugaan kekerasan terhadap Alfarisi selama di Mapolrestabes, hanya mengucapkan "Terima kasih infonya."

Alfarisi, seorang pemuda yatim piatu berusia 21 tahun asal Sampang, Madura, ditangkap pada 9 September 2024. Ia didakwa atas dugaan kepemilikan bom molotov berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Untuk bertahan hidup, ia bersama kakak kandungnya mengelola warung kopi kecil di Surabaya.

KontraS Surabaya bersama keluarga Alfarisi kini tengah berkoordinasi untuk langkah hukum selanjutnya. Mereka menuntut penyelidikan independen yang transparan untuk mengungkap fakta di balik kematian Alfarisi, memastikan keadilan ditegakkan, dan mencegah terulangnya insiden tragis serupa di masa mendatang.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer