Chapnews – Ekonomi – Dunia bisnis Indonesia kembali diramaikan dengan rilis daftar orang terkaya tahun 2026 versi Forbes. Sepuluh pengusaha terkemuka di Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran elit ini, dengan total kekayaan yang mencapai angka fantastis, bahkan hingga ratusan triliun Rupiah. Data ini, sebagaimana dilansir dari Forbes Real-Time Billionaires dan dikutip oleh chapnews.id, menunjukkan dominasi para taipan dari berbagai sektor industri.
Sumber kekayaan para konglomerat ini sangat beragam, mencakup sektor vital seperti pertambangan batu bara, perbankan, industri tembakau, pusat data, hingga perkebunan kelapa sawit. Beberapa di antaranya bahkan telah lama dikenal dengan julukan khusus, seperti "raja batu bara" Indonesia, yang menunjukkan pengaruh besar mereka di bidang masing-masing.

Pada urutan pertama daftar orang terkaya di Indonesia tahun 2026, nama Low Tuck Kwong kembali menempati posisi puncak. Pendiri Bayan Resources ini, yang memang dijuluki sebagai raja batu bara, tercatat memiliki pundi-pundi kekayaan mencapai USD 20,8 miliar. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp 369,4 triliun, berdasarkan kurs Rp 17.763 per dolar AS. Keberhasilan bisnisnya di sektor energi tak diragukan lagi menjadi penopang utama asetnya yang melimpah.
Menyusul di posisi kedua, terdapat nama Prajogo Pangestu. Pengusaha kawakan ini berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar USD 16,5 miliar, atau setara dengan Rp 293,08 triliun. Prajogo Pangestu dikenal luas sebagai pemilik Barito Pacific, sebuah konglomerasi yang bergerak di bidang petrokimia dan energi, menunjukkan diversifikasi portofolio bisnisnya yang kuat.
Melengkapi tiga besar, Robert Budi Hartono berada di peringkat ketiga orang terkaya di Indonesia 2026 versi Forbes. Kekayaannya diperkirakan mencapai USD 16,2 miliar, atau setara dengan Rp 287,7 triliun. Meskipun dikenal sebagai pemilik Djarum, sebagian besar asetnya justru berasal dari investasi strategis di PT Bank Central Asia (BCA). Hartono mengambil alih saham BCA setelah Salim Group kehilangan kendali atas bank tersebut akibat krisis ekonomi yang melanda pada tahun 1997-1998, sebuah langkah yang terbukti sangat menguntungkan hingga kini.

