Ads - After Header

Tragedi Rinjani: Menhut Evaluasi Total Keamanan Gunung!

Ahmad Dewatara

Tragedi Rinjani: Menhut Evaluasi Total Keamanan Gunung!

Chapnews – Nasional – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bereaksi cepat atas tewasnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani. Insiden memilukan ini mendorong Menhut untuk melakukan evaluasi menyeluruh prosedur keamanan di gunung tersebut. Langkah ini dibahas langsung dengan Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dalam pertemuan di Kantor Basarnas, Jakarta Pusat, Senin (30/6).

"Gunung Rinjani adalah kawasan konservasi, bukan destinasi wisata massal seperti Bali atau Labuan Bajo. Keamanan menjadi prioritas utama. Kita ingin mempromosikan keindahan Rinjani, tetapi bukan dengan mengorbankan nyawa pendaki," tegas Raja Juli dalam keterangan resmi. Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berkomitmen untuk melakukan evaluasi Standar Operasional Prosedur (SOP) secara komprehensif. "Kejadian ini menjadi momentum evaluasi total prosedur keamanan dan SOP secara umum," ujarnya.

Tragedi Rinjani: Menhut Evaluasi Total Keamanan Gunung!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Beberapa usulan perbaikan pun mengemuka, termasuk penambahan rambu petunjuk (sign board) di titik-titik krusial, penerapan gelang RFID (Radio Frequency Identification) untuk mempermudah pelacakan pendaki, serta penempatan posko yang lebih dekat satu sama lain. "Ada saran untuk menambah sign board, memperpendek jarak antar posko, dan menggunakan RFID pada gelang pendaki agar respon darurat lebih cepat," jelas Menhut. Ia menekankan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan siap memperbaiki SOP yang ada.

Selain itu, Menhut juga berencana untuk kembali memaksimalkan sertifikasi pemandu pendakian (guide) dan membuat peringkat potensi bahaya gunung-gunung di Indonesia. "Mendaki gunung berbeda dengan pergi ke mal. Butuh edukasi dan persiapan yang matang. Kita akan masifkan sertifikasi guide dan mungkin membuat peringkat bahaya gunung, agar pendaki pemula tidak langsung mendaki gunung dengan tingkat bahaya tinggi," imbuhnya.

Hasil autopsi oleh Dokter Spesialis Forensik Rumah Sakit Bali Mandara, Ida Bagus Putu Alit, menyatakan Juliana meninggal dunia sekitar 20 menit setelah jatuh akibat benturan keras, bukan hipotermia. Jenazah Juliana berhasil dievakuasi pada Rabu (25/6) setelah ditemukan di kedalaman 600 meter pada Senin (23/6). Insiden ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan keamanan dalam kegiatan pendakian.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer