Chapnews – Nasional – Kebakaran hebat gudang bahan kimia di Kelurahan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, telah menimbulkan dampak serius hingga ke wilayah Kabupaten Tangerang. Peristiwa ini diduga kuat menjadi pemicu pencemaran perairan, yang ditandai dengan fenomena ribuan ikan yang "mabuk" dan mengapung di berbagai aliran sungai. Ironisnya, kondisi ini justru dimanfaatkan sebagian besar warga untuk menjaring ikan-ikan yang terdampak, mengabaikan potensi risiko kesehatan yang mengintai.
Fenomena ikan mabuk ini terpantau di saluran irigasi Jalan Cadas-Wali Kukun, Kabupaten Tangerang, sebuah lokasi yang berjarak sekitar 34 kilometer dari pusat kebakaran gudang. Puluhan warga, didominasi pria dewasa dan anak-anak, terlihat antusias memunguti ikan satu per satu menggunakan alat sederhana seperti serokan, jaring, dan ember. Mayoritas ikan yang terkumpul adalah jenis mujair dan sebagian besar masih hidup, namun menunjukkan perilaku aneh akibat dugaan kontaminasi.

Meski telah ada peringatan dari petugas irigasi mengenai dugaan kontaminasi zat kimia dari kebakaran gudang pestisida di Tangsel, warga tetap bersikukuh mengambil ikan-ikan tersebut. "Tadi sudah ada yang mengingatkan, tapi ikannya masih segar, jadi sayang kalau dibuang," ungkap Marhami (56), salah seorang warga, pada Selasa lalu. Ia menambahkan bahwa ikan hasil tangkapannya rencananya akan dikonsumsi sendiri bersama keluarga, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk dijual jika ada pembeli.
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan, Bani Khosyatullah, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan jenis dan kandungan zat kimia yang mencemari air sungai. "Proses uji lab ini membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan hari untuk mendapatkan hasil yang akurat," jelas Bani kepada chapnews.id.
Oleh karena itu, Bani dengan tegas mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan dalam kondisi mati atau "mabuk" di aliran Sungai Cisadane dan sekitarnya. "Sebaiknya jangan dulu dikonsumsi karena kita belum tahu kandungannya. Dikhawatirkan ada zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan," pungkasnya, mengingatkan akan potensi bahaya yang belum teridentifikasi secara pasti.



