Daya Beli Anjlok? Pengusaha Mal Patahkan Mitos Rojali!
Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) dengan tegas menepis anggapan bahwa fenomena "Rojali" (Rombongan Jarang Beli) dan "Rohana" (Rombongan Hanya Nanya) mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat. Ketua Bidang Program Promosi DPP APPBI, Agung Gunawan, menyatakan bahwa istilah yang belakangan viral di media sosial ini bukanlah hal baru, melainkan evolusi dari kebiasaan "window shopping" yang telah lama ada di pusat perbelanjaan. Pernyataan ini disampaikan Agung di Kota Kasablanka pada Minggu, 15 Februari 2026.

Agung menekankan bahwa pusat perbelanjaan telah lama berfungsi lebih dari sekadar tempat transaksi jual beli. "Tidak semua pengunjung datang dengan tujuan utama berbelanja," ujarnya. Ia menjelaskan, banyak individu atau kelompok yang mengunjungi mal untuk berbagai keperluan lain, seperti bertemu kolega, bersantap, menikmati suasana, atau sekadar mencari hiburan tanpa harus melakukan pembelian.
"Fenomena Rojali dan Rohana itu sebetulnya sudah ada dari dulu. Bagi kami, keberadaan mereka tidak terlalu signifikan karena aktivitas pembelanjaan di mal tetap berlangsung dengan baik," tegas Agung, seperti yang dilaporkan chapnews.id.
Alih-alih khawatir, APPBI justru menyambut momentum Ramadan dan Lebaran 2026 dengan penuh optimisme. Asosiasi ini bahkan menargetkan peningkatan transaksi di pusat perbelanjaan hingga 10-15% dibandingkan periode bulan biasa.
Agung menjelaskan bahwa selama bulan suci Ramadan, terjadi pergeseran dan peningkatan pola konsumsi masyarakat, terutama pada sektor makanan dan minuman. Ia mencontohkan, jika pada hari-hari biasa masyarakat mungkin hanya makan siang dan malam di luar rumah, selama Ramadan, tradisi buka puasa bersama menjadi pendorong signifikan bagi frekuensi kunjungan dan volume transaksi di pusat perbelanjaan.



