Benarkah PLTU Suralaya Racuni Jakarta? Ahli Buka Suara!
Chapnews – Ekonomi – Isu polusi udara di Jakarta kembali memanas, dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Banten seringkali disebut-sebut sebagai salah satu biang keladinya. Namun, seorang pengamat kebijakan energi menekankan bahwa klaim tersebut harus didukung oleh kajian ilmiah yang kuat dan transparan sebelum menjadi kesimpulan akhir.

Sofyano Zakaria, Pengamat Kebijakan Energi, menegaskan bahwa tudingan terhadap PLTU Suralaya sebagai penyebab utama polusi di Ibu Kota memerlukan pembuktian yang tidak bisa ditawar. "Jika memang emisi dari PLTU Suralaya benar-benar terbawa hingga Jakarta dan berkontribusi signifikan terhadap kualitas udara yang buruk, maka harus ada bukti ilmiah yang komprehensif," ujar Sofyano pada Sabtu (22/8/2026), seperti dilansir chapnews.id.
Bukti tersebut, lanjutnya, harus mencakup data emisi PLTU secara detail, analisis arah dan kecepatan angin yang akurat, pemodelan dispersi polutan, serta pengukuran konsentrasi polutan di berbagai titik di Jakarta. Tanpa data-data ini, klaim tersebut hanya akan menjadi spekulasi belaka yang berpotensi menyesatkan publik dan menghambat solusi efektif.
Sofyano juga menyoroti pentingnya melihat dampak di wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan lokasi PLTU, seperti Banten. "Jangan sampai Jakarta dituding terdampak parah, sementara mekanisme dan jejak pencemaran di wilayah yang lebih dekat dengan sumber emisi justru tidak dijelaskan secara transparan," tegasnya. Ia menekankan perlunya penjelasan yang gamblang mengenai pergerakan polutan dari sumber hingga ke area yang diklaim terdampak, agar tidak ada kesan tebang pilih dalam analisis.
Lebih lanjut, Sofyano meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk secara terbuka menyampaikan data pendukung apabila mereka memang memiliki dasar untuk menyatakan bahwa PLTU Suralaya memiliki andil dalam memburuknya kualitas udara di Ibu Kota. Transparansi data ini krusial untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil didasarkan pada fakta ilmiah yang valid dan bukan asumsi semata, demi mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan bagi masalah polusi Jakarta.

