Chapnews – Nasional – Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, baru-baru ini mengumumkan pembaruan data mengenai dampak tragis longsor yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Informasi terkini dari tim Disaster Victim Identification (DVI) menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah korban meninggal dunia yang berhasil diidentifikasi, kini mencapai 30 jiwa.
Syafii menjelaskan, tim DVI Polda Jawa Barat telah bekerja keras dalam proses identifikasi. Angka awal yang teridentifikasi adalah 27 korban, namun seiring berjalannya waktu dan upaya identifikasi yang intensif, jumlah tersebut bertambah menjadi 30. Selain itu, tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur telah berhasil mengevakuasi total 43 kantong jenazah dari lokasi bencana.

Bencana alam ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur dan pemukiman warga. Tercatat sebanyak 35 unit rumah terdampak longsor, dengan sebagian besar mengalami kerusakan berat atau bahkan hilang ditelan material longsoran. Total warga yang merasakan dampak langsung dari kejadian ini mencapai 155 orang, di mana 75 jiwa di antaranya berhasil ditemukan selamat dan telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Dalam keterangannya, Syafii juga membeberkan pemicu utama dari longsor masif ini. Ia menyebutkan bahwa curah hujan berintensitas sangat tinggi yang mengguyur kawasan Gunung Burangrang selama dua hari berturut-turut menjadi penyebab utama. Longsoran tanah memiliki lintasan yang sangat panjang, diperkirakan mencapai sekitar 2.009 meter, membentang dari titik mahkota longsor hingga area paling bawah yang terdampak.
"Awalnya kami mendeteksi kelebaran longsor di mana sungai tadinya ini ada sungai kecil dengan kelebaran 2 sampai 5 meter. Dampak longsoran itu kami hitung mencapai 140 meter. Namun dalam perkembangannya ternyata dampak dari longsoran ini mencapai lebih dari 30 hektare," terang Syafii, menggambarkan skala kerusakan yang luar biasa luas akibat bencana alam di Cisarua ini.


