Ads - After Header

Retribusi Mahal, Sampah Menggunung: Pedagang Murka!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Tumpukan sampah yang menjulang tinggi di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kini menjadi momok menakutkan bagi para pedagang. Mereka mengeluhkan bau busuk menyengat dan akses jalan yang semakin sempit, menghambat roda perekonomian pasar. Persoalan ini, yang telah berlarut-larut tanpa solusi memadai, menimbulkan frustrasi yang memuncak di kalangan para pelaku usaha.

Suratno (52), salah seorang pedagang yang setiap hari beraktivitas di sekitar Tempat Penampungan Sementara (TPS), mengungkapkan kekesalannya. "Jalanan sekarang makin sempit karena sampah menggunung. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," ujarnya kepada chapnews.id di Jakarta Timur, Senin. Ia menambahkan, bau busuk dari sisa buah dan sayuran yang membusuk bahkan merasuk hingga ke dalam kios, menciptakan lingkungan yang sangat tidak nyaman untuk berdagang. "Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus masuk ke dalam. Sangat mengganggu," keluhnya. Kondisi ini, menurutnya, juga berdampak buruk terhadap kelancaran distribusi barang, padahal aktivitas bongkar muat adalah jantung operasional pasar induk yang melayani pasokan pangan ke berbagai wilayah.

Retribusi Mahal, Sampah Menggunung: Pedagang Murka!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Susanti (49). Ia merasa penanganan sampah di pasar tersebut tidak kunjung membaik, padahal para pedagang terus menjalankan kewajiban pembayaran retribusi kebersihan yang tidak sedikit. Menurutnya, pedagang dikenakan biaya retribusi sekitar Rp600 ribu hingga Rp900 ribu per bulan, tergantung luas kios. Namun, kondisi lingkungan pasar dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. "Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati," tutur Susanti, merasa dirugikan karena harus menanggung langsung dampak dari buruknya pengelolaan ini.

Pada Minggu (29/3), pemandangan tumpukan sampah di area TPS memang terlihat menggunung hingga mencapai ketinggian sekitar enam meter, bahkan melebihi lampu penerangan jalan di sekitar lokasi. Tidak ada aktivitas pengangkutan sampah yang terlihat pada hari itu. Genangan air di sekitar tumpukan juga mengubah area tersebut menjadi becek dan licin, meningkatkan risiko kecelakaan bagi pedagang maupun pekerja yang melintas.

Dugaan kuat para pedagang, penumpukan ini berakar pada keterbatasan armada pengangkut sampah menuju TPST Bantargebang. Akibatnya, sampah tidak terangkut secara rutin dan terus menumpuk dari hari ke hari. Oleh karena itu, mereka sangat berharap ada langkah cepat dari pengelola pasar maupun pemerintah untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang ini. "Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan di lingkungan pasar," pungkas Susanti, mewakili keresahan para pedagang lainnya.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer