Chapnews – Ekonomi – Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri. Ia dengan lugas menyebut bahwa tugas seorang Menteri Keuangan sejatinya sangatlah mudah. Menurutnya, pemegang kendali fiskal negara hanya dihadapkan pada tiga pilihan kebijakan fundamental: meningkatkan penerimaan, memangkas belanja, atau menambah utang. Pernyataan ini disampaikan Chatib dalam sebuah forum diskusi di Shangri-La Hotel, Jakarta, baru-baru ini.
"Tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang, dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. As simple as that, ini balance sheet enggak bisa diapa-apain," ujar Chatib, seperti dikutip dari chapnews.id. Ia menekankan bahwa secara konseptual, neraca keuangan negara hanya bisa diatur melalui ketiga instrumen tersebut, menjadikannya pilihan yang tampak sederhana di atas kertas.

Namun, di balik kesederhanaan teori tersebut, Chatib mengakui bahwa implementasi ketiga opsi ini jauh dari kata mudah, terutama dalam kondisi ekonomi global dan domestik saat ini. Situasi yang kompleks membuat setiap keputusan memiliki konsekuensi besar yang harus dipertimbangkan matang-matang.
Menaikkan penerimaan negara, khususnya melalui pajak, dinilai kurang tepat karena berpotensi menekan daya beli masyarakat yang sedang berjuang. Di sisi lain, opsi menambah utang juga bukan langkah bijak. Suku bunga global yang masih tinggi akan membuat biaya dana menjadi sangat mahal, membebani struktur utang jangka panjang negara.
"Masa di dalam situasi ini pajak mesti dinaikkan atau menambah utang? Siapa yang kalau mau pinjam uang sekarang cost of fund-nya akan jadi sangat mahal," imbuhnya, menyoroti dilema yang dihadapi pemerintah.
Menghadapi kebuntuan tersebut, Chatib Basri menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah rasionalisasi anggaran secara progresif. Salah satu area yang disorot adalah pemangkasan subsidi yang tidak tepat sasaran. Menurutnya, ini adalah jalan paling realistis untuk menyehatkan fiskal tanpa harus menciptakan beban utang baru atau menekan ekonomi rakyat.
"Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga: cut the spending selectively. Jadi solusinya adalah bahwa fiskalnya itu kemudian harus di-rationalize untuk address isu itu. Jadi mungkin bisa dilakukan combined revenue, misalnya dengan cut subsidized," jelasnya.
Lebih jauh, Chatib menggarisbawahi tantangan terbesar yang seringkali luput dari perhitungan angka-angka ekonomi: realitas politik. Kebijakan yang secara teknis benar dan secara ekonomi rasional seringkali sulit dieksekusi karena kekhawatiran akan hilangnya dukungan publik atau popularitas politik bagi para pengambil keputusan.
"Nah persoalannya adalah mungkin enggak menaikkan? Gak mungkin saat ini. Masa di dalam situasi ini tax revenue. pajak mesti dinaikkan," ujarnya, menggambarkan betapa sulitnya mengambil keputusan impopuler meskipun demi kebaikan fiskal jangka panjang.
Dengan demikian, meskipun tugas Menteri Keuangan secara teori tampak sederhana dengan hanya tiga opsi, kompleksitas implementasinya di lapangan, terutama di tengah tekanan ekonomi dan dinamika politik, menjadikannya salah satu posisi paling menantang dalam pemerintahan. Rasionalisasi belanja dan pemangkasan subsidi yang tidak efektif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah badai ketidakpastian.


