Chapnews – Ekonomi – Mata uang rupiah menunjukkan performa positif di awal perdagangan hari ini, Selasa (11/5/2026), dengan berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah tercatat mengalami apresiasi sebesar 5 poin atau sekitar 0,03 persen, menempatkannya di level Rp17.704 per dolar AS. Kenaikan ini memberikan sinyal optimisme di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.
Di saat yang sama, pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia pada sesi perdagangan pagi ini menampilkan dinamika yang bervariasi. Sentimen pasar di Benua Kuning bercampur, di mana beberapa mata uang regional berhasil mengukir penguatan, sementara yang lain justru tertekan oleh tekanan jual.

Di antara mata uang yang menunjukkan kinerja positif adalah yen Jepang (JPY) yang terapresiasi 0,09 persen, dolar Hong Kong (HKD) naik tipis 0,03 persen, peso Filipina (PHP) menguat 0,11 persen, won Korea (KRW) tumbuh 0,04 persen, dan rupee India (INR) yang memimpin dengan kenaikan signifikan sebesar 0,42 persen.
Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama. Sejumlah mata uang regional justru mengalami pelemahan. Dolar Singapura (SGD) terkoreksi 0,03 persen, dolar Taiwan (TWD) melemah 0,09 persen, yuan China (CNY) turun 0,05 persen, baht Thailand (THB) terdepresiasi 0,03 persen, serta ringgit Malaysia (MYR) yang mencatat penurunan terbesar di kawasan ini sebesar 0,19 persen.
Dinamika serupa turut mewarnai bursa valuta asing di Benua Biru. Nilai tukar mata uang negara-negara Eropa juga menunjukkan pergerakan yang tidak seragam terhadap dolar AS. Namun, ada kabar baik dari dua mata uang utama Eropa yang berhasil menahan tekanan.
Euro (EUR) dan pound sterling (GBP) terpantau kompak menunjukkan kenaikan, masing-masing menguat sebesar 0,04 persen dan 0,1 persen, menambah daftar mata uang yang berhasil menanjak di tengah fluktuasi global yang terus berlanjut.


