Ads - After Header

Revolusi Energi: Limbah Sawit Hasilkan Rp1,7 T, Impor LNG Ciut!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Indonesia kini menggenjot pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) dari limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) sebagai strategi jitu untuk menekan emisi metana sekaligus mereduksi ketergantungan pada impor gas alam cair (LNG). Inisiatif ambisius ini diproyeksikan mampu menciptakan nilai ekonomi fantastis, mencapai Rp1,7 triliun.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa potensi Indonesia dalam mengubah limbah sawit menjadi sumber energi rendah karbon yang bernilai ekonomi sangatlah besar. Pemanfaatan POME menjadi CBG tidak hanya mendukung target dekarbonisasi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional secara signifikan.

Revolusi Energi: Limbah Sawit Hasilkan Rp1,7 T, Impor LNG Ciut!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," ujar Hokkop di Jakarta, Senin lalu, seperti dikutip dari chapnews.id.

Dengan sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit di seluruh Nusantara, Indonesia menyimpan potensi limbah cair POME hingga 130 juta meter kubik setiap tahunnya. Ironisnya, sebagian besar potensi melimpah ini belum termanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi domestik. Padahal, limbah POME merupakan kontributor utama emisi metana, yang diestimasi mencapai 20 juta ton CO2e per tahun.

"Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," tambah Hokkop.

Pengembangan CBG ini bukan sekadar solusi lingkungan, melainkan juga pilar penting dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44–48 persen pada tahun 2030, serta mewujudkan komitmen Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Untuk mengakselerasi industri biomethane, PLN EPI tengah membangun ekosistem CBG yang terintegrasi, mulai dari pengamanan pasokan bahan baku, pengembangan fasilitas produksi, hingga penciptaan pasar yang berkelanjutan.

Dalam model bisnis ini, PLN EPI mengambil peran sentral sebagai agregator dan offtaker. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, hingga pembangkit listrik.

"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," tegas Hokkop.

Sebagai implementasi nyata, PLN EPI sedang mempersiapkan proyek cofiring CBG di PLTGU Belawan. Untuk satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG. Jumlah ini setara dengan pemanfaatan sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun, atau hasil dari satu fasilitas CBG.

Lebih lanjut, untuk memenuhi kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan, diperlukan sekitar empat fasilitas CBG dengan total investasi yang diperkirakan mencapai USD20 juta. Implementasi ini diproyeksikan mampu menghindari emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e, menunjukkan langkah konkret Indonesia dalam mengubah limbah menjadi energi bersih yang prospektif.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer