Chapnews – Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan dengan catatan merah yang signifikan. Pada Jumat, 26 Juni 2026, indeks acuan bursa ini anjlok tajam sebesar 102,91 poin atau setara 1,72 persen, memposisikan diri di level 5.896. Penurunan drastis ini menandai sentimen negatif yang kuat di pasar modal Indonesia, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Kondisi pasar kian suram dengan dominasi saham-saham yang tergelincir. Tercatat, sebanyak 590 saham melemah, jauh melampaui 130 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 239 saham lainnya memilih stagnan, tidak bergerak dari posisi sebelumnya. Aktivitas transaksi perdagangan juga cukup tinggi, mencapai Rp12,3 triliun dengan total 18,6 miliar saham berpindah tangan, mencerminkan aksi jual yang masif di seluruh papan perdagangan.

Indeks-indeks utama lainnya turut merasakan dampak tekanan jual yang sama. Indeks LQ45 melemah 0,69 persen ke 583, Indeks JII anjlok lebih dalam 2,58 persen ke 342, Indeks IDX30 terkoreksi 0,53 persen ke 331, dan Indeks MNC36 turun 0,78 persen ke 256. Hampir seluruh sektor industri berada di zona negatif, meliputi energi, konsumer non siklikal, konsumer siklikal, infrastruktur, properti, bahan baku, transportasi, industri, teknologi, dan kesehatan. Di tengah badai merah ini, hanya sektor keuangan yang mampu bertahan dan mencatatkan penguatan tipis, menjadi satu-satunya penopang di pasar yang lesu.
Meski demikian, di tengah badai merah yang melanda, beberapa saham berhasil mencuri perhatian sebagai top gainers. PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) melonjak impresif 34,74 persen, mengakhiri perdagangan di harga Rp128 per saham. Disusul oleh PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS) yang naik 25 persen ke Rp350, serta PT Arthavest Tbk (ARTA) yang menguat 23,15 persen ke Rp2.660. Kinerja impresif dari saham-saham ini menjadi pengecualian di tengah lesunya pasar secara keseluruhan, memberikan sedikit harapan bagi para investor yang jeli.


