Ads - After Header

Merapi Mengancam! BPPTKG: Jangan Nekat, Erupsi Eksplosif Menanti!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Yogyakarta – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat, khususnya para pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas di Gunung Merapi. Ancaman erupsi eksplosif yang berpotensi terjadi secara mendadak menjadi alasan utama larangan ini, terutama setelah beredarnya konten viral pendakian ilegal di media sosial.

Kepala BPPTKG, Agus Budi, pada Rabu (1/7), menekankan bahwa aspek keselamatan pendaki adalah prioritas utama. Ia menjelaskan, apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak. Jangkauan ini meliputi area yang selama ini menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga siapa pun yang berada di zona tersebut berisiko tinggi terdampak langsung.

Merapi Mengancam! BPPTKG: Jangan Nekat, Erupsi Eksplosif Menanti!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan," tegas Agus Budi, seraya meminta masyarakat dan para pendaki memahami dinamika aktivitas Merapi terkini.

Meskipun Merapi saat ini berada dalam fase erupsi efusif, di mana magma keluar perlahan ke permukaan, kondisi ini justru menyimpan potensi bahaya yang lebih besar. Agus Budi menjelaskan, sumbatan mendadak pada jalur keluarnya magma dapat memicu akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat melepaskan energi dalam bentuk erupsi eksplosif yang terjadi secara tak terduga.

Merujuk pada data historis aktivitas vulkanik Merapi selama tiga abad terakhir, Gunung Merapi telah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dengan tipe erupsi eksplosif mendominasi frekuensi kejadian. Bahkan, sejak erupsi besar tahun 2010, chapnews.id mencatat telah terjadi 32 kali erupsi eksplosif, sebagian besar berupa erupsi freatik.

"Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," pungkas Agus Budi.

Senada dengan BPPTKG, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) juga menegaskan bahwa jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup total hingga saat ini. Pernyataan ini sekaligus menanggapi maraknya konten viral di media sosial yang menunjukkan aktivitas pendakian ilegal dan ajakan untuk mendaki, bahkan klaim pembukaan jalur pendakian.

Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menjelaskan bahwa penutupan jalur pendakian telah diberlakukan sejak 22 Mei 2018 menyusul peningkatan status aktivitas Gunung Merapi dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Selanjutnya, pada 5 November 2020, status aktivitas kembali dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini masih berlaku.

"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," kata Heri dalam keterangan resminya, Senin (29/6).

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19-25 Juni 2026 (kemungkinan typo di sumber, seharusnya 2023/tahun berjalan) yang diterbitkan BPPTKG, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan erupsi efusif yang berkelanjutan. Suplai magma ke permukaan masih berlangsung, sehingga sewaktu-waktu dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran yang meluncur mengikuti alur sungai di lereng gunung.

Saat ini, potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas yang dapat meluncur di sektor selatan-barat daya, mencakup alur Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal 5 kilometer dari puncak. Sementara pada alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, potensi luncuran material vulkanik dapat mencapai jarak maksimal 7 kilometer dari puncak.

Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi alur Sungai Woro dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak. Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berupa lontaran batu pijar diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Secara spesifik, Balai TNGM menegaskan bahwa jalur pendakian populer melalui New Selo, yang kerap menjadi pilihan pendaki, seluruhnya berada dalam zona bahaya yang direkomendasikan BPPTKG/PVMBG. Titik-titik seperti pintu gerbang hingga Pos I (sekitar 2,3 kilometer dari puncak), Pos II (sekitar 1,64 kilometer), Pasar Bubrah (sekitar 0,7 kilometer), hingga puncak, seluruhnya berada di dalam kawasan yang berpotensi terdampak lontaran material vulkanik maupun awan panas. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap larangan ini menjadi krusial demi keselamatan jiwa.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer