Chapnews – Nasional – Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) telah menuntaskan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII di Kota Medan, menghasilkan sepuluh rekomendasi strategis yang akan menjadi agenda bersama bagi pemerintah kota se-Indonesia. Rekomendasi ini dirancang untuk memperkuat pembangunan perkotaan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan zaman.
Forum penting yang mengusung tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat" ini telah merumuskan berbagai masukan yang diharapkan menjadi bahan penguatan kebijakan pemerintah pusat. Tujuannya adalah agar kebijakan nasional dapat lebih responsif dalam menjawab dinamika pembangunan di daerah.

Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, menegaskan bahwa pemerintah kota memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi beragam persoalan pembangunan. Oleh karena itu, masukan yang dirumuskan selama Rakernas memiliki bobot penting. "Persoalan pemerintah kota hari ini tidak lagi semata-mata teknis. Solusinya membutuhkan ruang dialog dan political will agar berbagai rekomendasi daerah benar-benar menjadi kebijakan," ujar Alwis saat Dialog Kota Tangguh dan Mayors Talk di Ballroom Grand City Hall, Kota Medan, Rabu (1/7), seperti dilansir chapnews.id.
Sepuluh rekomendasi kunci yang dihasilkan Rakernas XVIII APEKSI meliputi:
- Penguatan Kapasitas Fiskal: Reformasi hubungan keuangan pusat-daerah untuk kemandirian fiskal.
- Penataan Kebijakan ASN & PPPK: Fleksibilitas belanja daerah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
- Tata Kelola Program Strategis Nasional: Penguatan implementasi program di daerah.
- Percepatan Infrastruktur: Peningkatan konektivitas dan pembangunan wilayah.
- Transformasi Digital: Tata kelola pemerintahan dan digitalisasi layanan publik yang lebih efisien.
- Ketahanan Lingkungan: Tata kota berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim.
- Ekonomi Lokal Inklusif: Penguatan ekonomi daerah dan pemerataan pembangunan.
- Tata Ruang & Kerja Sama: Pembangunan kewilayahan yang terencana dan kolaboratif.
- Advokasi Hukum: Kepastian regulasi untuk mendukung pembangunan daerah.
- Pelibatan Generasi Muda: Inklusi pemuda dalam perencanaan, implementasi, hingga pemantauan pembangunan kota.
Kesepuluh poin ini secara jelas menggarisbawahi bahwa ketangguhan kota tidak hanya terbatas pada kesiapsiagaan menghadapi bencana. Namun, juga mencakup dimensi krusial seperti penguatan kapasitas fiskal, peningkatan kualitas pelayanan publik, pengembangan ekonomi, transformasi digital, pengelolaan lingkungan, serta kolaborasi aktif antar-pemerintah demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa Rakernas XVIII APEKSI merupakan forum strategis, bukan sekadar agenda seremonial. Ia melihatnya sebagai wadah vital bagi pemerintah kota untuk saling bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, dan merumuskan solusi kolektif dalam menghadapi tantangan pembangunan.
"Praktik-praktik terbaik itu ada di kawan-kawan kita sendiri. Kami di Kementerian Dalam Negeri melalui [Direktorat Jenderal Bina] Keuda, melalui [Direktorat Jenderal] Otda kemudian dapat data-data juga dari APEKSI, ini justru melihat dengan bangga dan optimis bagaimana kota-kota ini menjadi transformer, menjadi survivor dengan berbagai macam inisiatif-inisiatif," ungkap Bima saat membuka Rakernas.
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, dinamika geopolitik, dan kondisi perekonomian nasional, kolaborasi antarkota menjadi semakin krusial. Bima juga mendorong pemerintah kota untuk terus berinovasi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi pembayaran, penguatan kolaborasi, serta kepemimpinan kepala daerah yang terlibat langsung.
Rakernas XVIII APEKSI yang berlangsung pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026 di Kota Medan ini diharapkan menjadi pijakan kuat bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan kota-kota yang semakin tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Selain sidang organisasi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan Youth City Changers (YCC), Ladies Program, berbagai forum tematik seperti Lingkungan Hidup, Komunikasi Digital, dan Pangan, serta Karnaval Budaya Nusantara dan Indonesia City Expo (ICE).


