Ads - After Header

Terungkap! Rupiah Loyo ke Rp18.065, Ini Biang Keroknya!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Mata uang Garuda, Rupiah, kembali menunjukkan performa lesu di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan 6-10 Juli 2026. Tercatat, nilai tukar rupiah terperosok 0,39 persen, menembus level psikologis Rp18.000-an dan ditutup pada Rp18.065 per dolar AS. Pelemahan ini tak lepas dari kombinasi sentimen global dan tekanan domestik yang kian menguat, memicu kekhawatiran di pasar keuangan.

Merujuk data Bloomberg di pasar spot, pergerakan rupiah menunjukkan tren pelemahan yang konsisten. Pada Senin (6/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke Rp17.995 per dolar AS. Tren negatif ini berlanjut hingga akhir pekan, di mana pada Jumat (10/7/2026), mata uang domestik kembali terkoreksi 0,35 persen, mengakhiri perdagangan di posisi Rp18.065 per dolar AS. Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat penguatan tipis pada hari Jumat di Rp18.069 per dolar AS. Namun, secara akumulatif dalam sepekan, nilai tukar rupiah versi Jisdor justru mencatatkan pelemahan yang lebih dalam, yakni 0,60 persen.

Terungkap! Rupiah Loyo ke Rp18.065, Ini Biang Keroknya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menyoroti faktor-faktor penyebab kemerosotan ini, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa sentimen domestik menjadi salah satu pemicu utama. Pasar merespons negatif laporan terbaru dari Fitch Ratings yang secara gamblang menyoroti kerapuhan kondisi ekonomi makro Indonesia. Ibrahim menjelaskan, "Perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," seperti dikutip dari risetnya yang diterima chapnews.id.

Lebih lanjut, Ibrahim menguraikan bahwa lembaga pemeringkat global tersebut memperingatkan potensi tekanan berkepanjangan yang dapat memicu peningkatan utang dan biaya pinjaman pemerintah. Kondisi ini, menurutnya, secara signifikan memperbesar risiko penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia. Sebagai informasi, pada Maret 2026, peringkat utang Indonesia masih dipertahankan pada level BBB, namun prospek (outlook) telah direvisi menjadi negatif, mengindikasikan potensi penurunan di masa mendatang.

Selain bayang-bayang laporan Fitch Ratings, kegelisahan pasar juga dipicu oleh data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Angka ini sekaligus mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung impresif selama 72 bulan beruntun, menambah daftar panjang sentimen negatif yang menekan kinerja rupiah.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer