Chapnews – Ekonomi – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini membagikan kisah menarik di balik keberhasilannya membukukan komitmen investasi fantastis senilai USD 8,6 miliar atau setara dengan Rp153 triliun untuk ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. Yang mengejutkan, Bahlil mengaku menuntaskan negosiasi krusial tersebut tanpa harus fasih berbahasa Inggris.
Dalam sebuah acara peluncuran bukunya di Jakarta, Jumat (7/8/2026), Bahlil menceritakan bahwa ketika masih menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), ia mendapat mandat langsung dari Presiden Joko Widodo. Tugasnya adalah melakukan negosiasi strategis dengan pemerintah China, Jepang, dan Korea Selatan guna menarik investasi vital bagi pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

"Waktu itu saya disuruh melakukan negosiasi dengan China, Jepang, dan Korea tentang ekosistem baterai mobil dan beberapa investasi, nilainya USD8,6 miliar dolar AS. Saya bertemunya dengan menteri-menterinya," ujar Bahlil, mengulang momen penting tersebut.
Ia menjelaskan, pada masa itu, posisi Kepala BKPM di mata negara-negara mitra negosiasi seringkali hanya dipersepsikan sebagai chairman atau kepala badan, bukan setingkat menteri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Bahlil. Negosiasi intensif yang dilakukannya berhasil membuahkan komitmen investasi besar yang kemudian menjadi fondasi penting bagi pembangunan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
"Saya pulang, gol USD8,6 miliar dolar AS tereksekusi tanpa bahasa Inggris. Jadi jangan Bapak tanya bahasa Inggris saya berapa, enggak," katanya disambut tawa hadirin, menegaskan bahwa komunikasi efektif tidak selalu bergantung pada kefasihan bahasa asing.
Keberhasilan tersebut, menurut Bahlil, sekaligus menjadi momen pencerahan baginya. Ia menyadari bahwa Indonesia membutuhkan kementerian yang memiliki posisi setara dengan mitra negosiasi di negara lain agar lebih leluasa dalam diplomasi investasi. Sepulang dari misi tersebut, ia langsung menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo mengenai urgensi peningkatan status BKPM untuk memperkuat daya tawar Indonesia di kancah investasi global.

