Ads - After Header

Waspada! Utang RI Tembus Rp10.293 T, Rupiah Terancam?

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Posisi utang pemerintah Indonesia terus menjadi sorotan tajam, terutama dengan meningkatnya porsi Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi valuta asing (valas). Data Kementerian Keuangan menunjukkan total utang negara telah menembus angka fantastis Rp10.293,69 triliun per 30 Juni 2026, memicu kekhawatiran serius akan risiko pelemahan rupiah dan potensi beban utang yang semakin berat di masa mendatang.

Peningkatan signifikan ini, yang mencapai Rp655,79 triliun hanya dalam semester pertama tahun 2026, didominasi oleh SBN sebesar Rp8.966,79 triliun (87,11 persen) dan sisanya dari pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun (12,89 persen). Angka-angka ini mengindikasikan laju pertumbuhan utang yang perlu dicermati lebih lanjut.

Waspada! Utang RI Tembus Rp10.293 T, Rupiah Terancam?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menyoroti fenomena ini dengan kekhawatiran. Ia menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah secara langsung memperbesar saldo utang negara, khususnya yang berdenominasi valas. "Ketika posisi utang dinyatakan dalam rupiah, setiap pelemahan mata uang kita akan menambah beban utang berdenominasi valuta asing," terang Awalil dalam risetnya yang dikutip chapnews.id pada Kamis (13/8/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi kerentanan ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi kurs global.

Strategi pembiayaan utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp477,43 triliun. Angka ini jauh melampaui kebutuhan riil untuk menutup defisit anggaran sebesar Rp196,5 triliun dan pembiayaan investasi senilai Rp52,21 triliun. Awalil menambahkan, "Pembiayaan utang yang jauh melampaui defisit ini disebabkan oleh kebijakan berutang terlebih dahulu atau ‘front loading’ untuk memenuhi keperluan bulan-bulan berikutnya."

Akibat dari kebijakan "front loading" ini, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) membengkak hingga Rp255,5 triliun pada akhir Juni 2026. Lebih lanjut, pelemahan kurs rupiah selama paruh pertama tahun ini telah menyumbang tambahan beban utang sekitar Rp154 triliun, sebuah angka yang tidak bisa diabaikan dalam perhitungan keuangan negara.

Secara rinci, komposisi SBN menunjukkan SBN berdenominasi rupiah tercatat Rp7.118,39 triliun, sementara SBN valas mencapai Rp1.848,40 triliun. Meskipun SBN rupiah bertambah Rp368,17 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025, porsinya terhadap total SBN justru menurun dari 80,48 persen menjadi 79,39 persen. Data ini mengindikasikan pertumbuhan SBN valas yang lebih cepat, memperkuat kekhawatiran akan risiko yang disebutkan di awal dan menuntut perhatian serius dari pemangku kebijakan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer