Chapnews – Nasional – Selama 36 tahun, pemandangan pilu menjadi rutinitas harian bagi anak-anak di wilayah Bandung Barat. Mereka harus mengarungi sungai dengan rakit seadanya demi mencapai bangku sekolah. Fenomena ini bukan cerita baru, melainkan realitas pahit yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade, menggambarkan potret perjuangan pendidikan di pelosok negeri.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri, puluhan anak, berseragam sekolah, berkumpul di tepi sungai. Mereka menanti giliran menyeberang menggunakan rakit kayu sederhana yang digerakkan secara manual. Arus sungai yang terkadang deras, terutama saat musim hujan, menjadi ancaman serius yang mengintai keselamatan mereka, namun tak menyurutkan semangat untuk menimba ilmu.

Ketiadaan infrastruktur jembatan yang memadai menjadi alasan utama mengapa rakit menjadi satu-satunya pilihan realistis. Sungai yang memisahkan permukiman warga dengan lokasi sekolah membuat jalur darat alternatif memakan waktu dan jarak tempuh yang jauh lebih lama, serta tidak efisien bagi para siswa. Kondisi ini telah memaksa beberapa generasi anak-anak di sana untuk bertaruh nyawa demi pendidikan.
Tiga puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Artinya, beberapa generasi telah merasakan pahitnya perjuangan ini. Para orang tua mengaku cemas setiap kali anak-anak mereka berangkat sekolah, namun tak punya pilihan lain selain mendukung tekad anak-anak mereka. Ironisnya, di tengah gencar-gencarnya pembangunan dan kemajuan teknologi, akses pendidikan dasar yang aman masih menjadi barang mewah bagi sebagian anak bangsa.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah daerah maupun pusat akan pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya di daerah-daerah terpencil. Diharapkan, potret perjuangan anak-anak Bandung Barat ini dapat segera menemukan solusi permanen, sehingga generasi mendatang tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa demi sebuah pendidikan yang layak. chapnews.id akan terus memantau perkembangan kisah inspiratif sekaligus memilukan ini.

