Chapnews – Ekonomi – Sejak pertengahan Agustus 2026, industri penerbangan nasional menghadapi krisis serius. Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua telah mengganggu operasional maskapai secara masif, menyebabkan kerugian besar dan ketidaknyamanan bagi ribuan penumpang.
Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, mengungkapkan bahwa dampak karhutla sangat nyata terhadap sektor penerbangan. "Visibilitas turun di bawah batas aman untuk lepas landas maupun mendarat," jelas Bayu dalam keterangan tertulis yang diterima chapnews.id pada Sabtu (5/9/2026). Kondisi kritis ini memaksa maskapai untuk melakukan penundaan jadwal, pengalihan pendaratan, hingga pembatalan penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak.

Dampak paling signifikan terlihat di Bandara Singkawang, di mana rute Jakarta-Singkawang pulang-pergi untuk maskapai TransNusa dan Super Air Jet terpaksa dibatalkan pada tanggal 16, 18, dan 19 Agustus. Pembatalan ini berdampak pada ratusan penumpang; tercatat 174 penumpang berangkat dan 153 penumpang datang pada TransNusa, serta 180 penumpang berangkat dan 87 penumpang datang pada Super Air Jet. Maskapai memberikan opsi pengembalian dana penuh atau penjadwalan ulang gratis selama tujuh hari bagi penumpang yang terdampak.
Tak hanya Singkawang, Bandara Supadio Pontianak juga mencatat setidaknya 21 penerbangan mengalami penundaan dan satu penerbangan dialihkan ke Batam akibat jarak pandang yang minim. Di Kalimantan Barat, asap tebal juga mengganggu operasional NAM Air di Bandara Iskandar Pangkalan Bun.
Situasi serupa melanda wilayah timur Indonesia. Rute Wings Air Timika-Nabire di Papua mengalami penundaan signifikan lantaran jarak pandang hanya mencapai 2,6 kilometer, jauh di bawah batas minimum pilot sebesar 5 kilometer. Bayu menambahkan, kualitas udara di Palangka Raya bahkan sempat menyentuh indeks berbahaya atau AQI 487, yang semakin memperparah keterlambatan penerbangan di Pangkalan Bun dan rute perintis di Nabire.
Secara keseluruhan, keterlambatan penerbangan rata-rata berlangsung 1-2 jam. Kondisi paling parah terjadi pada pukul 06.00 hingga 08.00 WIB, saat jarak pandang anjlok drastis di kisaran 1.000 meter. Krisis asap karhutla ini terus menjadi tantangan besar yang menekan industri penerbangan nasional, menuntut langkah mitigasi yang lebih serius dan berkelanjutan.

