Chapnews – Nasional – Tanoto Foundation, melalui Fasilitator Daerah (Fasda) Perubahan, meluncurkan sebuah terobosan untuk membuat pembelajaran literasi dan numerasi menjadi lebih menarik dan relevan di Kota Dumai, Riau. Inisiatif strategis ini diwujudkan melalui serangkaian proyek inovatif yang mengintegrasikan metode pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pusat implementasi program ini adalah SMPN 14 Dumai, di mana metode Lesson Study diterapkan secara kolaboratif dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Kepala SMPN 14 Dumai, Rudi Candra, menjelaskan bahwa program ini diawali dengan pelatihan intensif bagi guru-guru dari berbagai sekolah di Kota Dumai. Setiap sekolah mengirimkan perwakilan guru untuk mengikuti pelatihan, yang kemudian bertugas mendiseminasikan atau membagikan praktik baik tersebut kepada rekan guru lainnya di sekolah masing-masing.

Hasil pelatihan tersebut kemudian diwujudkan dalam Lesson Study yang terbagi menjadi tiga tahapan krusial: plan (perencanaan), do (pelaksanaan), dan see (refleksi). "Hari ini kita masuk pada kegiatan do. Sebelumnya mereka sudah berdiskusi dalam menyusun perencanaan pembelajaran. Setelah kegiatan ini selesai, mereka akan melaksanakan tahap see atau refleksi untuk melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang belum berhasil," terang Rudi, menggambarkan alur kerja yang sistematis.
Pendekatan RME, khususnya dalam pembelajaran matematika, berakar pada permasalahan konkret yang sering ditemui siswa dalam keseharian mereka. Dalam praktik terbaru, guru memanfaatkan aktivitas sederhana seperti membungkus kado sebagai media pembelajaran untuk membantu siswa memahami konsep luas permukaan balok. "Dari permasalahan itu, anak-anak mengukur dan melakukan aktivitas sendiri. Dari situ mereka menemukan rumus luas permukaan balok, kemudian menghitung berapa kertas kado yang dibutuhkan," ungkap Rudi.
Metode ini diharapkan mampu mengubah stigma bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar siswa dapat mengkonstruksi pemahaman konsep melalui pengalaman nyata, bukan sekadar menghafal rumus tanpa konteks.
Yusriwiati Yose, Project Management Unit Tanoto Foundation, menambahkan bahwa Fasda Perubahan berperan sebagai platform vital bagi para fasilitator daerah untuk merancang dan mengembangkan solusi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi unik di wilayah masing-masing. "Fasda Perubahan merupakan kesempatan untuk mengatasi tantangan literasi dan numerasi di daerah. Melalui proyek ini, Fasda didorong menjadi agen perubahan yang mampu melahirkan inovasi peningkatan literasi dan numerasi berbasis konteks lokal," jelas Yusriwiati.
Untuk wilayah Riau, Proyek Fasda Perubahan 2026 menargetkan tiga daerah strategis, yaitu Kota Dumai, Kota Pekanbaru, dan Kabupaten Bengkalis. Khusus di Dumai, terdapat tiga proyek unggulan: Gemilang, yang fokus pada pemanfaatan potensi wisata lokal untuk penguatan literasi dan numerasi guru; EduCore Numeracy, yang mendorong kolaborasi guru melalui Lesson Study RME; serta Anre Beraksi, yang diwujudkan melalui Gerakan Literasi Terbimbing (GLITTER).
Melalui pendampingan berkelanjutan ini, Tanoto Foundation berharap inovasi-inovasi yang dikembangkan dapat menjadi praktik baik yang tidak hanya direplikasi, tetapi juga terus dikembangkan oleh sekolah dan guru lain, disesuaikan dengan potensi dan karakteristik daerah masing-masing.


