Chapnews.id – Fenomena api biru atau blue fire yang menyala indah di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata menyimpan ancaman serius bagi keselamatan manusia. Di balik pesona visualnya yang memukau para wisatawan, terdapat risiko geologi yang dapat mengancam nyawa jika tidak diwaspadai dengan saksama.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini. Menurutnya, munculnya nyala api biru tersebut merupakan indikasi adanya pelepasan panas vulkanik dalam intensitas yang sangat tinggi. Suhu ekstrem ini bahkan mampu membakar material yang berada di permukaan tanah secara langsung.

Lebih jauh lagi, Lana menjelaskan bahwa ancaman utama yang mengintai di balik kemunculan blue fire adalah potensi semburan gas vulkanik yang bersifat beracun. Gas-gas ini bisa keluar secara tiba-tiba dengan konsentrasi yang melampaui ambang batas aman bagi pernapasan manusia.
"Potensi bahaya yang dapat terjadi dengan kemunculan sinar api atau blue-fire ini adalah semburan dan paparan gas vulkanik beracun yang berada di atas ambang batas," tegas Lana Saria dalam keterangannya, Minggu (27/9).
Menyikapi situasi tersebut, Badan Geologi telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat demi menjamin keselamatan masyarakat dan pendaki. Salah satu poin krusial adalah larangan keras bagi siapa pun untuk melakukan aktivitas fisik maupun menginap di kawasan bukaan kawah aktif yang berada di dalam kompleks Gunung Papandayan.
Beberapa titik kawah yang menjadi zona merah dan dilarang untuk didekati antara lain adalah Kawah Baru, Kawah Emas, Kawah Nangklak, hingga Kawah Manuk atau Balagadam. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak aman, terutama dalam radius minimal 500 meter dari pusat kawah. Selain itu, kondisi cuaca seperti mendung dan hujan juga menjadi faktor risiko tambahan yang harus dihindari.
Selain ancaman gas beracun, Badan Geologi juga mengingatkan adanya risiko letusan mendadak. Fenomena vulkanik ini dikhawatirkan dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa memberikan tanda-tanda atau gejala awal yang jelas. Tak hanya itu, stabilitas dinding kawah di kompleks Gunung Papandayan juga perlu diwaspadai karena adanya potensi tanah longsor yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Berdasarkan laporan pemantauan terakhir hingga Sabtu (26/9), sinar api di area Kawah Manuk dilaporkan sudah tidak lagi terlihat. Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan tidak akan menurunkan kewaspadaan. Pemantauan intensif selama 24 jam penuh terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas vulkanik.
"Tingkat aktivitas Gunung Papandayan akan terus kami evaluasi secara berkala, terutama jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan di lapangan," pungkas Lana. Melalui informasi ini, masyarakat diharapkan tetap tenang namun tetap waspada dan selalu mematuhi arahan petugas di lapangan saat berkunjung ke kawasan wisata gunung tersebut.


