Chapnews.id – Kobaran api yang melalap kawasan hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam nyawa satwa liar yang tak berdosa. Dalam sebuah operasi penyelamatan yang menegangkan, tim gabungan berhasil mengevakuasi seekor orang utan betina dan seekor trenggiling dari kepungan bara api yang membara.
Salah satu momen paling dramatis terjadi di Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Dusun Ramban, Desa Bagendang Tengah. Seekor orang utan betina yang kini diberi nama Sindi, terjebak di atas pohon kering di tengah kepungan asap tebal. Sindi, yang diperkirakan berusia 20 tahun dengan bobot 32 kilogram, sempat membuat petugas kewalahan karena terus berpindah ke dahan yang lebih tinggi untuk menghindari ancaman api di bawahnya.

Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengungkapkan bahwa proses evakuasi ini berlangsung sangat sulit dan penuh risiko. Tim rescue dari Seksi KSDA Wilayah II bersama Yayasan Orangutan Foundation International (OFI) harus berjuang menembus kabut asap sejak sore hari.
"Situasi di lapangan sangat menantang. Tanah di bawah pohon tempat Sindi berada masih menyimpan bara api, dan vegetasi di sekitarnya didominasi kelapa sawit yang sedang terbakar," ujar Muriansyah.
Proses pembiusan satwa pun tidak bisa dilakukan secara instan. Petugas harus menunggu hingga dini hari untuk mendapatkan momen yang tepat saat Sindi mulai tenang. Setelah berhasil dibius pada pukul 02.00 WIB, petugas harus memanjat pohon dengan hati-hati karena tubuh Sindi sempat tersangkut di antara dahan. Beruntung, pada pukul 02.30 WIB, Sindi berhasil diturunkan dengan selamat tanpa luka bakar sedikit pun.
Kabar baik datang dari pemeriksaan medis di klinik karantina OFI. Hasil tes darah menunjukkan Sindi dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit. Sebagai langkah pemulihan, Sindi direncanakan akan ditranslokasikan ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau guna menjamin keamanan habitatnya.
Tak hanya orang utan, aksi penyelamatan satwa juga menyasar seekor trenggiling betina seberat 10 kilogram. Satwa dilindungi ini ditemukan oleh tim pemadam kebakaran perusahaan PT Rimba Makmur Utama (RMU) saat mereka tengah berjuang memadamkan api di Desa Terantang, Seranau.
Berbeda dengan Sindi yang memerlukan perawatan intensif, trenggiling ini ditemukan dalam kondisi yang sangat prima. Setelah melalui pemeriksaan singkat oleh petugas BKSDA Pos Sampit, diputuskan bahwa satwa tersebut tidak perlu menjalani rehabilitasi panjang agar tidak mengalami stres akibat perubahan lingkungan.
"Karena kondisinya sehat, aktif, dan tidak ada luka, kami memutuskan untuk segera melepasliarkannya kembali ke habitat yang aman dari kebakaran," tambah Muriansyah. Langkah cepat ini diambil agar trenggiling dapat segera kembali ke siklus hidup alaminya di tengah hutan yang telah terkendali.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan dampak destruktif karhutla terhadap keanekaragaman hayati di Kalimantan. Kerja keras tim di lapangan menjadi harapan kecil bagi kelestarian satwa endemik Indonesia di tengah ancaman bencana tahunan ini. Laporan selengkapnya dapat Anda ikuti melalui chapnews.id.

