Chapnews.id – Dunia penerbangan Indonesia baru saja diguncang oleh peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), yang merupakan gerbang utama transportasi udara di tanah air, terpaksa menghentikan seluruh operasionalnya secara total. Keputusan drastis ini diambil menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu ke wilayah udara sekitar bandara.
Penutupan yang berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak tanggal 6 hingga 8 September 2026 tersebut, menciptakan kekacauan logistik dan mobilitas yang masif. Dampak ekonomi dari lumpuhnya bandara terbesar di Indonesia ini diperkirakan mencapai angka yang sangat fantastis, yakni kerugian hingga Rp40 miliar. Angka ini mencakup kerugian dari sisi maskapai, layanan bandara, hingga sektor pariwisata dan bisnis yang bergantung pada konektivitas udara.

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), Agus Haryadi, mengungkapkan bahwa peristiwa ini merupakan catatan kelam sekaligus bersejarah dalam manajemen operasional bandara. Berdasarkan pengalaman panjangnya yang telah mengabdi di Bandara Soekarno-Hatta sejak tahun 1992, ia menegaskan bahwa situasi ini adalah yang paling ekstrem yang pernah ia hadapi.
"Sepanjang pengalaman saya bekerja di Soekarno-Hatta sejak tahun 1992, atau sekitar 35 tahun terakhir, belum pernah ada momen di mana bandara ini harus ditutup secara keseluruhan," ujar Agus dalam sebuah pertemuan resmi bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, sebagaimana dilansir dari chapnews.id.
Ia memberikan perbandingan yang menarik dengan masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun silam. Menurut Agus, meskipun pandemi menyebabkan pembatasan mobilitas yang sangat ketat selama hampir tiga tahun, status Bandara Soekarno-Hatta saat itu tetap dalam kondisi terbuka (open). Pada masa pandemi, bandara hanya melakukan penyesuaian protokol kesehatan dan pembatasan jumlah penumpang, namun aktivitas penerbangan tetap berjalan untuk melayani kebutuhan mobilitas masyarakat yang mendesak.
Berbeda dengan kondisi pandemi, erupsi Anak Krakatau kali ini memaksa pihak pengelola untuk benar-benar menutup pintu operasional (close). Agus menjelaskan bahwa penutupan sebagian landasan pacu memang pernah terjadi sebelumnya, biasanya karena adanya pemeliharaan rutin atau perbaikan teknis pada salah satu runway. Namun, penutupan total seluruh area bandara adalah hal yang baru pertama kali terjadi akibat ancaman alam.
Keputusan sulit ini diambil setelah melalui serangkaian pengujian teknis yang sangat ketat. Pihak pengelola bandara bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kualitas udara. Berdasarkan hasil uji paper test dan temuan black glass, terbukti bahwa terdapat partikel abu vulkanik yang sangat berbahaya bagi mesin pesawat.
"Setelah BMKG memastikan melalui hasil pengujian bahwa partikel abu vulkanik terdeteksi positif, kami tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Keselamatan penumpang dan awak pesawat adalah prioritas utama, sehingga penutupan langsung dilakukan," tegas Agus. Abu vulkanik yang masuk ke dalam mesin jet dapat menyebabkan kerusakan fatal, sehingga langkah preventif ini dianggap sebagai satu-satunya jalan demi menghindari tragedi di udara.

