Ads - After Header

Waspada Rupiah Terancam Tembus Rp18.000

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Kondisi ekonomi nasional tengah berada dalam fase yang penuh tantangan. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami fluktuasi tajam dengan kecenderungan bergerak melemah. Bahkan, muncul kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar bahwa mata uang Garuda tersebut berpotensi merosot hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik ini bukan tanpa alasan. Faktor utama yang membayangi adalah pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dinamika harga komoditas global yang tidak menentu. Situasi ini membuat para pelaku pasar valuta asing bersikap sangat hati-hati dalam mengambil posisi, terutama saat meninjau ketahanan kas negara di tengah volatilitas ekonomi dunia.

Waspada Rupiah Terancam Tembus Rp18.000
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Berdasarkan analisis ekonomi terbaru, pergerakan Rupiah pada perdagangan Senin ini diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun cenderung menutup perdagangan di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Kondisi ini merupakan respons langsung pasar terhadap data fiskal domestik yang menunjukkan adanya peningkatan defisit anggaran hingga akhir kuartal ketiga.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pasar tengah mencermati angka defisit APBN per September 2026 yang telah menyentuh angka Rp319 triliun. Angka tersebut setara dengan 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Jika dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2026 yang berada di level 0,9 persen, terlihat adanya tren kenaikan defisit yang cukup signifikan.

Lonjakan defisit ini dipicu oleh realisasi belanja negara yang sangat masif. Tercatat, pengeluaran negara mencapai Rp2.660,5 triliun, atau melonjak sebesar 19,0 persen secara tahunan (year-on-year). Angka belanja tersebut sudah mengonsumsi sekitar 69,2 persen dari total pagu belanja tahunan yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.842,7 triliun.

Di sisi lain, pendapatan negara sebenarnya menunjukkan tren positif dengan perolehan senilai Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen secara tahunan. Meskipun pendapatan tumbuh cukup kuat dan telah merealisasikan 74,2 persen dari target tahunan, volume pengeluaran yang jauh lebih besar tetap membuat neraca anggaran mengalami defisit. Meski demikian, angka defisit saat ini masih berada di bawah batas target akhir tahun pemerintah yang dipatok sebesar 2,8 persen.

Selain masalah defisit, ancaman lain datang dari sektor energi. Ketidakpastian harga minyak mentah dunia menjadi faktor risiko yang sangat sensitif bagi postur anggaran Indonesia. Setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar satu dolar per barel diperkirakan akan menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun, terutama terkait dengan beban subsidi energi.

Walaupun tekanan ekonomi cukup berat, Ibrahim Assuaibi memberikan catatan bahwa pemerintah masih memiliki sedikit ruang napas. Hal ini dikarenakan adanya surplus keseimbangan primer yang tercatat mencapai Rp125,5 triliun, yang diharapkan dapat menjadi bantalan fiskal untuk meredam dampak guncangan ekonomi yang terjadi.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer