Chapnews.id – Suasana tenang di kawasan Ranca Tungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, mendadak berubah mencekam pada Minggu (18/10) dini hari. Sebuah ruko yang juga berfungsi sebagai kediaman keluarga Desta Pancaputra, pendiri Gerakan Indonesia Emas (GIE), menjadi sasaran aksi pembakaran misterius menggunakan bom molotov.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 03.45 WIB tersebut mengejutkan penghuni rumah. Desta mengaku terbangun setelah mendengar teriakan histeris neneknya yang memanggil namanya dengan panik. Saat ia bergegas keluar untuk memastikan kondisi keluarga, api sudah mulai berkobar melalap sebagian bangunan.

Dampak dari serangan ini cukup signifikan secara materi. Sejumlah barang berharga seperti pakaian hingga perabotan rumah tangga hangus dilalap api. Selain itu, kaca pintu rumah juga hancur berkeping-keping akibat ledakan atau benturan saat serangan terjadi. Di lokasi kejadian, petugas menemukan dua botol yang diduga kuat merupakan rakitan bom molotov yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya.
Desta tidak menampik adanya rasa trauma yang mendalam, terutama bagi anggota keluarganya yang sudah lanjut usia. "Kerugian materi bukan hal utama bagi saya. Yang paling menyakitkan adalah dampak psikologis dan trauma yang dialami kakek dan nenek saya. Saya tidak tahu kapan rasa takut itu akan hilang dari mereka," ungkap Desta dengan nada getir.
Menariknya, Desta mencurigai adanya motif politik di balik serangan ini. Ia merasa rentetan kejadian yang menimpa keluarganya bukanlah sebuah kebetulan. Sekitar sepuluh hari sebelum insiden ini, pamannya juga dilaporkan mengalami teror serupa dengan modus pembakaran oleh orang tak dikenal.
Desta meyakini bahwa dirinya sedang menjadi sasaran karena aktivitasnya melalui Gerakan Indonesia Eemas (GIE) yang vokal menyuarakan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari level Kabupaten Bandung hingga tingkat pusat. Ia menegaskan bahwa segala kritik yang ia sampaikan semata-mata adalah bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
"Saya hanya menginginkan perubahan demi kemajuan daerah. Kritik adalah bagian dari kepedulian, dan seharusnya tidak dibalas dengan tindakan kekerasan seperti ini," tegasnya.
Berdasarkan keterangan saksi mata, seorang penjual ayam potong yang hendak menuju pasar, terlihat sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang melintas di sekitar lokasi saat kejadian. Keberadaan kendaraan tersebut juga dikonfirmasi melalui rekaman CCTV di beberapa titik sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
Menanggapi insiden ini, pihak kepolisian telah bergerak cepat. Polsek Pameungpeuk bersama tim Inafis Polresta Bandung telah melakukan olah TKP untuk mengumpulkan barang bukti dan mengidentifikasi pelaku. Kapolsek Pameungpeuk, AKP Saep Balya, menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif.
"Kami sudah melakukan olah TKP bersama tim Inafis. Saat ini kami sedang mendalami keterangan saksi-saksi untuk mengungkap siapa pelaku dan apa motif sebenarnya di balik kejadian ini," ujar Saep.
Saat ini, keluarga Desta memutuskan untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra. Sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan adanya serangan susulan, Desta berencana untuk membawa kakek dan neneknya tinggal sementara di kediamannya guna menjamin keamanan mereka. Melalui laporan di chapnews.id, publik berharap kasus ini segera terungkap agar keadilan bagi korban dapat terpenuhi.

