Ads - After Header

Lawan Kabut Asap Palembang Pakai Es Kering

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Upaya pemerintah untuk mengurai kepungan kabut asap pekat di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kini menghadapi tantangan besar. Meskipun bantuan teknologi modifikasi cuaca telah disiapkan, kondisi atmosfer yang ekstrem justru menghambat langkah penyelamatan tersebut.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, melakukan peninjauan langsung ke Lanud Sri Mulyono Herlambang pada Rabu (22/10) untuk memastikan kesiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil menyusul kembalinya kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Palembang dan sekitarnya, yang mengakibatkan jarak pandang masyarakat menurun drastis.

Lawan Kabut Asap Palembang Pakai Es Kering
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam kunjungannya, Herman Deru didampingi oleh jajaran komando militer setempat untuk memantau kesiapan teknis di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa situasi pagi ini terasa berbeda dan lebih menantang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Setelah sempat merasakan penurunan intensitas asap selama tiga hari terakhir, kini kabut justru kembali menebal secara signifikan.

"Pagi ini situasinya cukup khusus. Saya bersama Pak Danrem hadir di pangkalan udara ini untuk menyikapi peningkatan kabut yang sangat signifikan pagi ini," ujar Herman Deru sebagaimana dikutip dari informasi resmi pemerintah provinsi.

Herman menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia stok sebanyak 4,7 ton dry ice atau es kering yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Bahan ini nantinya akan disemai melalui pesawat terbang untuk memicu hujan buatan guna membasuh partikel asap di udara. Namun, rencana tersebut terpaksa tertunda karena faktor keselamatan penerbangan.

"Kami ingin proses ini segera dilaksanakan, tetapi kami terbentur masalah jarak pandang atau visibility. Ada aturan ketat dalam dunia penerbangan yang mengharuskan jarak pandang berada pada level tertentu agar pesawat bisa terbang dengan aman," tambahnya.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena kabut yang menyelimuti Palembang kali ini memiliki karakteristik yang kompleks. Kabut tersebut bukan sekadar partikel asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan campuran antara asap dengan uap air akibat tingkat kelembapan udara yang sangat tinggi.

Kondisi darurat ini mendorong Herman Deru untuk segera menggelar rapat koordinasi intensif bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumatera Selatan di Bandara SMB II Palembang. Pertemuan strategis tersebut melibatkan Danrem 044/Garuda Dempo Brigjen TNI Khabib Mahfud, Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana, serta pejabat dari Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel.

Agenda utama rapat tersebut adalah merumuskan langkah taktis lanjutan untuk memadamkan titik api yang terus bermunculan. Data dari Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan situasi yang cukup mengkhawatirkan, di mana per 22 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB, masih terdeteksi sebanyak 1.832 titik api (hotspot) di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi titik yang paling kritis dengan temuan mencapai 1.007 titik api. Sebagian besar kebakaran tersebut terjadi di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan karena api cenderung merambat di bawah permukaan tanah. Pemerintah daerah kini terus berupaya memperkuat koordinasi agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara menyeluruh dan cepat.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer