Chapnews.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif yang cukup signifikan dalam perdagangan terbaru. Mata uang Garuda dilaporkan mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni di angka Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data perdagangan pada Senin sore (26/10/2026), rupiah bahkan semakin tertekan ke level Rp18.135 per dolar AS, atau mengalami pelemahan sebesar 0,30 persen.
Kondisi ini memicu perhatian serius dari berbagai kalangan pelaku pasar keuangan. Penurunan nilai tukar yang terjadi sejak pembukaan perdagangan pagi hari hingga sore hari ini mencerminkan adanya dinamika yang cukup kuat di pasar valuta asing. Pelemahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menjaga keseimbangan arus modal dan kebutuhan devisa negara.

Menanggapi situasi yang berkembang, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Otoritas moneter tersebut menyatakan akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap setiap pergerakan di pasar valuta asing. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa fluktuasi yang terjadi tetap berada dalam koridor yang wajar dan tidak menimbulkan gejolak yang berlebihan di masyarakat maupun pelaku usaha.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan pernyataan resmi terkait kondisi ini setelah menghadiri acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa kehadiran bank sentral di pasar sangat bergantung pada dinamika penawaran dan permintaan (supply and demand) yang terjadi pada hari tersebut.
"Kami tetap hadir di pasar mengikuti dinamika supply dan demand hari ini. Intinya, kami terus memonitor setiap pergerakan yang terjadi," tegas Destry kepada awak media.
Lebih lanjut, Destry mencoba menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa volatilitas yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang lumrah. Meskipun angka Rp18.000 per dolar AS merupakan level yang cukup tinggi, BI tetap bersikap waspada dan tidak hanya melihat permukaan saja. Bank sentral berkomitmen untuk melakukan analisis mendalam guna menemukan akar permasalahan atau root cause dari pelemahan ini.
"Ini adalah bentuk volatilitas biasa, namun kami terus memantau secara intensif dan berusaha mengidentifikasi apa penyebab mendasar dari kondisi ini," tambahnya.
Langkah mitigasi yang dilakukan BI bertujuan untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional agar tetap tangguh di tengah ketidakpastian global. Fokus utama otoritas moneter saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan devisa guna meredam tekanan terhadap rupiah. Para pelaku pasar kini tengah menunggu langkah konkret selanjutnya dari bank sentral untuk menstabilkan kembali nilai tukar mata uang nasional.


