Ads - After Header

Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Global

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan saat menutup perdagangan pada Selasa (27/10/2026). Mata uang nasional ini terdepresiasi sebesar 21 poin atau merosot sekitar 0,12 persen, sehingga bertengger di level Rp18.156 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal yang menghantui pasar keuangan domestik maupun global.

Melemahnya rupiah kali ini tidak lepas dari dinamika geopolitik yang sedang memanas di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan analisis pasar uang dan komoditas, salah satu faktor utama yang memicu sikap waspada para investor adalah upaya diplomatik intensif yang tengah dilakukan untuk meredakan konflik di kawasan tersebut.

Rupiah Tertekan di Tengah Ketegangan Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa perhatian dunia saat ini tertuju pada rangkaian pertemuan diplomatik yang melibatkan aktor-aktor kunci seperti Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk mencegah konflik regional meluas menjadi perang skala besar yang dapat melumpuhkan ekonomi global.

"Para pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran pada Senin kemarin. Fokus utama dari pertemuan ini adalah untuk mengurangi ketegangan di kawasan serta membuka ruang bagi jalur negosiasi yang lebih konkret," tulis Ibrahim dalam laporan riset terbarunya yang dikutip dari chapnews.id.

Beberapa poin krusial yang menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan tersebut meliputi eskalasi serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, serta kemungkinan terbukanya komunikasi antara Amerika Serikat dengan Iran. Selain itu, isu mengenai gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta blokade pelabuhan oleh Washington juga menjadi perhatian serius yang membayangi stabilitas pasar.

Meskipun upaya diplomasi ini memberikan sedikit harapan untuk meredakan kekhawatiran akan eskalasi militer, para investor global masih memilih untuk bersikap wait and see. Ketidakpastian mengenai apakah negosiasi ini akan menghasilkan de-eskalasi yang permanen atau hanya sekadar jeda sementara membuat aliran modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Situasi semakin kompleks dengan adanya pernyataan dari Presiden Donald Trump yang tetap membuka kemungkinan adanya tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran. Di sisi lain, pihak Teheran menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington hanya akan berjalan lancar jika ada konsesi nyata, seperti penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Risiko terhadap pasokan energi global tetap berada pada level yang mengkhawatirkan. Konflik yang terus bergejolak di kawasan tersebut telah terbukti mengganggu kelancaran pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur ini merupakan urat nadi perdagangan energi dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut akan berdampak langsung pada volatilitas nilai tukar dan harga komoditas global.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer