Chapnews.id – Lanskap ekonomi global diprediksi akan mengalami tren positif dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi terbaru, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan menyentuh angka 3,4 persen pada tahun 2027. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan tahun ini yang berada di level 3,1 persen.
Kenaikan ini memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi internasional, meskipun tantangan geopolitik dan ketidakpastian pasar global masih membayangi. Di tengah dinamika tersebut, Indonesia muncul sebagai salah satu pemain kunci di kawasan Asia Tenggara dengan potensi pertumbuhan yang sangat menjanjikan.

Potensi Indonesia di Kawasan ASEAN
Dalam peta persaingan ekonomi di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan mampu mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,1 persen pada tahun 2027. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kuat, sejajar dengan Filipina, meskipun masih berada sedikit di bawah laju pertumbuhan Vietnam yang dikenal sangat agresif.
CEO Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang Brodjonegoro, memberikan catatan penting terkait proyeksi ini. Menurutnya, meskipun angka pertumbuhan ekonomi global menunjukkan tren kenaikan, namun distribusi pertumbuhan tersebut diprediksi tidak akan merata di seluruh negara. Ada negara yang akan melesat cepat, namun ada pula yang akan tertinggal akibat perbedaan struktur ekonomi.
Meski demikian, Bambang menekankan bahwa peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, ia memberikan peringatan keras bahwa angka pertumbuhan PDB yang tinggi bukanlah jaminan mutlak bagi kemakmuran atau tingginya imbal hasil investasi.
Syarat Menarik Investasi Asing
Bambang menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dibarengi dengan daya tarik investasi yang kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Menurutnya, investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan, tetapi juga melihat faktor-faktor fundamental lainnya.
"Proyeksi PDB yang tinggi belum menjamin imbal hasil yang besar bagi investor. Ada faktor-faktor krusial yang harus diperhatikan, seperti besarnya permintaan pasar, kedalaman rantai pemasok, keandalan infrastruktur listrik dan logistik, kepastian perizinan, hingga kualitas keterampilan tenaga kerja," ujar Bambang dalam keterangannya.
Artinya, Indonesia harus mampu memastikan bahwa pertumbuhan 5,1 persen tersebut didukung oleh ekosistem bisnis yang sehat dan efisien agar modal asing terus mengalir masuk ke tanah air.
Pengaruh Dinamika Politik
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, memberikan perspektif tambahan mengenai faktor eksternal dan internal yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Ia menilai bahwa dinamika politik, baik di tingkat domestik maupun global, akan menjadi variabel penentu yang sangat krusial terhadap prospek ekonomi pada tahun 2027.
Ketidakstabilan politik atau perubahan kebijakan pemerintah yang mendadak dapat menjadi hambatan bagi realisasi target pertumbuhan tersebut. Oleh karena itu, sinergi antara stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang pro-investasi menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam dalam memperebutkan pasar global.

