Chapnews – Ekonomi – Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali menerjang Tokopedia, platform e-commerce raksasa di Indonesia. Kabar mengejutkan menyebutkan, hingga 90 persen dari total karyawan perusahaan berpotensi terdampak PHK massal yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026. Keputusan drastis ini datang setelah serangkaian restrukturisasi yang telah terjadi sejak Tokopedia diakuisisi oleh TikTok.
Gelombang PHK kali ini bukanlah yang pertama. Sejak TikTok resmi menjadi pemegang saham mayoritas Tokopedia pada akhir 2023, perusahaan telah mengalami beberapa kali perampingan. PHK pertama tercatat pada Juni 2024, disusul gelombang kedua di pertengahan 2025, dan kini puncaknya di awal Juli 2026 dengan skala yang jauh lebih besar.

TikTok, sebagai entitas pengendali, akhirnya angkat bicara mengenai keputusan sulit ini. Manajemen TikTok menyatakan bahwa langkah PHK merupakan bagian integral dari upaya mereka untuk menyelaraskan organisasi. Tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan bisnis jangka panjang yang lebih berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang kompetitif.
Juru Bicara TikTok, dalam keterangannya pada Jumat (3/7/2026), menjelaskan bahwa perusahaan tengah melakukan penyesuaian signifikan pada organisasi riset dan pengembangan (R&D). Penyesuaian ini diklaim bertujuan untuk memperkuat fondasi bisnis serta mendukung komunitas kreator dan penjual yang aktif di platform mereka.
"Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami," ujar Juru Bicara TikTok, seperti dikutip dari chapnews.id.
Pihak TikTok juga menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan PHK bukanlah hal yang mudah dan telah melalui pertimbangan matang. Mereka berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada para karyawan yang terdampak selama masa transisi ini. "Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini," tambahnya, menunjukkan empati di tengah langkah restrukturisasi yang masif.


