Chapnews.id – Krisis kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang masyarakat telah menembus angka 333.470 kasus. Lonjakan ini menjadi sinyal merah bagi kualitas kesehatan masyarakat di wilayah terdampak asap.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Ten Suyanti, mengungkapkan bahwa meskipun angka kumulatif sangat besar, beban kesehatan harian masih terus berjalan dengan rata-rata 4.522 kasus baru setiap harinya. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko kesehatan lebih besar.

"Kami memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Mereka adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru seperti asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Selain itu, para pekerja yang beraktivitas di luar ruangan juga menjadi prioritas perlindungan," ujar Ten Suyanti dalam keterangannya di Jakarta.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terbaru, kualitas udara di beberapa provinsi prioritas karhutla dilaporkan telah mencapai kategori berbahaya. Enam provinsi menjadi sorotan utama, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Di Kalimantan Tengah, situasi cukup mencekam dengan tujuh kabupaten/kota yang masuk dalam kategori udara berbahaya. Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Selatan, khususnya di Kota Palembang, Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir, bahkan wilayah Ogan Ilir tercatat berada pada level sangat tidak sehat. Di Jambi, wilayah Muaro Jambi dan Tebo dilaporkan dalam kategori berbahaya, sementara Tanjung Jabung Timur menyusul dengan status sangat tidak sehat.
Kondisi udara buruk juga merambah Kalimantan Selatan, di mana Banjarmasin dan Tabalong masuk kategori berbahaya, sementara Barito Kuala berada pada level sangat tidak sehat. Tak ketinggalan, Kutai Barat di Kalimantan Timur dan Pontianak di Kalimantan Barat juga melaporkan kualitas udara yang membahayakan kesehatan.
Ten Suyanti menjelaskan bahwa ancaman utama berasal dari partikel halus seperti PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang terkandung dalam asap karhutla. Paparan zat-zat berbahaya ini tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan kulit, hingga dampak sistemik pada organ tubuh lainnya.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, tren kasus ISPA di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Riau menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sebaliknya, Kalimantan Barat justru mengalami penurunan, sementara Kalimantan Timur dan Jambi cenderung stabil.
Sebagai langkah mitigasi, Kemenkes terus menggenjot strategi preventif dan promotif. Langkah nyata yang dilakukan meliputi pembagian masker secara masif, edukasi risiko kesehatan kepada warga, hingga pemantauan kualitas udara di dalam ruangan. Pemerintah juga memastikan stok obat-obatan dan alat kesehatan di daerah terdampak tetap aman untuk menangani lonjakan pasien.

