Chapnews – Nasional – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu ternyata meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan di salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Kelimutu. Hasil pengamatan lapangan dan survei drone yang dilakukan tim Badan Geologi mengungkap adanya retakan sepanjang sekitar 100 meter pada bibir Kawah I (Tiwu Ata Polo), serta longsoran kecil di Kawah II (Tiwu Koofai Nuwamuri).
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, pada Senin (24/8) menjelaskan bahwa retakan di bibir Kawah I teridentifikasi berada pada jarak sekitar 6 meter dari tepian kawah. Lana Saria secara tegas mengingatkan bahwa kondisi retakan ini membutuhkan perhatian ekstra. Potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I menjadi kekhawatiran utama, terutama jika dipicu oleh gempa susulan atau intensitas hujan tinggi saat musim penghujan.

Dampak gempa tak hanya menyentuh Kawah I. Kawah II (Tiwu Koofai Nuwamuri) juga menunjukkan respons berupa longsoran kecil. Longsoran ini terdiri dari material endapan hasil letusan masa lalu Gunung Kelimutu, dengan arah longsoran menuju ke timur laut ke dalam kawah. Meskipun longsoran ini tidak menimbulkan dampak yang signifikan secara langsung, suara gemuruh keras sempat terdengar dari puncak gunung, mengindikasikan aktivitas geologis yang terjadi.
Meskipun demikian, status Gunung Kelimutu saat ini masih berada pada Level I atau Normal. Namun, Badan Geologi mengimbau masyarakat sekitar dan para pengunjung untuk tidak mendekati area retakan pada Kawah I (Tiwu Ata Polo), khususnya dalam radius 6 hingga 10 meter dari bibir kawah. Kewaspadaan ini ditekankan mengingat tingginya potensi terjadinya longsor.
Sebagai langkah mitigasi dan antisipasi bahaya, Badan Geologi merekomendasikan pemantauan perkembangan retakan secara berkala untuk memahami dinamikanya. Selain itu, pemasangan tanda peringatan atau larangan khusus terkait potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I dan Kawah II, serta penetapan zona atau garis bahaya pada area retakan Kawah I dan sekitar longsoran Kawah II, juga dianggap krusial. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keselamatan pengunjung dan masyarakat sekitar dari potensi bahaya yang mengintai.

