Chapnews.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap stabilitas bisnisnya di tengah kondisi pasar modal yang sedang mengalami fluktuasi signifikan. Melalui keterbukaan informasi terbaru, bank pelat merah terbesar di Indonesia ini secara resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback tahap kedua dengan nilai mencapai Rp1 triliun.
Langkah strategis ini direncanakan akan berlangsung dalam periode waktu yang cukup panjang, yakni mulai tanggal 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap dinamika pasar yang tidak menentu, sekaligus menjadi sinyal positif bagi para investor mengenai kesehatan finansial perusahaan.

Pelaksanaan aksi korporasi ini dilakukan dengan tetap mematuhi koridor regulasi yang ketat. BRI memastikan bahwa seluruh proses buyback ini mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2023. Selain itu, langkah ini juga telah selaras dengan Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor S-112/D.04/2026 yang mengatur mengenai kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka saat kondisi pasar sedang bergejolak.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya manajemen untuk terus meningkatkan nilai bagi para pemegang saham. Menurutnya, langkah ini adalah bukti nyata dari keyakinan manajemen terhadap kekuatan fundamental bisnis yang dimiliki BRI serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan di masa depan.
"Rencana buyback saham ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang Perseroan. Dalam pelaksanaannya, BRI tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Dhanny dalam keterangannya.
Meskipun menggelontorkan dana hingga Rp1 triliun untuk membeli kembali sahamnya, BRI menjamin bahwa kondisi permodalan perusahaan akan tetap terjaga dengan sangat sehat. Manajemen menekankan bahwa setiap aksi korporasi yang diambil selalu mempertimbangkan struktur permodalan yang kuat agar operasional bank tetap berjalan optimal.
Berdasarkan data keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, BRI menunjukkan performa yang sangat impresif. Bahkan setelah memperhitungkan dampak dari buyback tahap kedua ini, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI diproyeksikan tetap berada pada level yang sangat kuat, yakni sebesar 21,42 persen. Selain itu, tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) perusahaan juga tercatat sangat sehat di angka 18,80 persen.
Dengan adanya langkah ini, pasar menantikan bagaimana BRI akan terus mendominasi sektor perbankan nasional dan memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang sahamnya di tengah tantangan ekonomi global.

