Chapnews.id – Suasana di kawasan Nongsa Digital Park (NDP), Batam, mendadak riuh pada Senin (5/10). Bukan karena aktivitas teknologi tinggi, melainkan karena teriakan histeris sekelompok ibu-ibu yang menuntut hak dasar mereka: air bersih. Dengan membawa berbagai peralatan rumah tangga seperti ember, timba, hingga botol galon kosong, para warga ini melakukan aksi protes langsung di depan pintu masuk kawasan pusat data tersebut.
Salah satu warga, Dewi, mengungkapkan kemarahan dan keputusasaannya terkait krisis air yang melanda wilayah mereka. Ia menuding bahwa keberadaan proyek pusat data (data center) di kawasan tersebut menjadi penyebab utama menyusutnya debit air di waduk, yang berdampak langsung pada distribusi air ke rumah-rumah warga.

Kondisi ini memaksa warga harus mengeluarkan biaya ekstra yang sangat memberatkan. "Pengeluaran kami melonjak drastis. Biasanya hanya bayar tagihan air Rp45 ribu per bulan, tapi sekarang karena air tidak mengalir, kami harus beli air literan. Bisa habis Rp150 ribu sampai Rp200 ribu hanya untuk kebutuhan seminggu," keluh Dewi di tengah aksi unjuk rasa.
Menanggapi gelombang protes tersebut, pihak Badan Pengusahaan (BP) Batam memberikan klarifikasi. Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, membantah tudingan bahwa proyek pusat data menjadi penyebab utama kekeringan. Menurutnya, proyek data center yang sedang berjalan masih dalam tahap pembangunan dan konsumsi airnya masih sangat kecil.
Denny menjelaskan bahwa penurunan drastis produksi air di wilayah Nongsa disebabkan oleh faktor alam, yakni musim kemarau panjang. Ia memaparkan data yang cukup mencengangkan; jika biasanya waduk mampu memproduksi 90 liter air per detik, saat ini produksinya merosot tajam hingga hanya tersisa sekitar 2,5 liter per detik.
"Kondisi kemarau inilah yang membuat produksi air turun jauh. Untuk wilayah lain seperti Duriangkang atau Tembesi, kondisi waduk masih aman. Namun, khusus di Nongsa, distribusinya memang sedang sangat kecil," jelas Denny.
Sebagai langkah cepat, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, langsung turun ke lapangan untuk meninjau kondisi Waduk Nongsa. Berdasarkan hasil tinjauan, ia menemukan bahwa Tinggi Muka Air (TMA) waduk tersebut kini berada di angka 5,5 meter di atas permukaan laut. Angka ini menunjukkan penurunan yang sangat signifikan dibandingkan kondisi normal yang biasanya mencapai 10 meter, bahkan bisa menyentuh 12,7 meter pada kondisi puncak.
Untuk mengatasi krisis ini, BP Batam telah menyiapkan langkah teknis berupa pemasangan pipa interkoneksi guna mengalirkan air dari embung di kawasan Kebun Raya Nongsa menuju Waduk Nongsa. Selain itu, penyambungan pipa berdiameter besar juga dilakukan untuk mengoptimalkan dorongan air ke pemukiman warga.
"Kami berupaya agar debit air bisa naik secara bertahap melalui interkoneksi ini. Kami ingin pekerjaan teknis ini cepat selesai agar masyarakat tidak lagi mengeluh," tegas Amsakar. Selain upaya teknis, ia juga mengajak warga untuk melakukan ikhtiar spiritual melalui salat istisqa guna memohon turunnya hujan.


