Chapnews – Ekonomi – Persaingan global dalam memperebutkan talenta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mencapai titik ekstrem, di mana nilai seorang ahli AI top dunia bisa menembus angka fantastis Rp1 triliun. Angka yang mengejutkan ini diungkapkan oleh Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Danantara, Pandu Patria Sjahrir, yang menyoroti betapa langkanya sumber daya manusia dengan keahlian AI tingkat tinggi.
Dalam sebuah kesempatan di Hotel Mulia Senayan, Pandu menjelaskan bahwa jumlah tenaga kerja dengan kapabilitas AI kelas atas di seluruh dunia sangatlah terbatas. "Di AI, mungkin high skilled labor itu di bawah 600-700 orang," ujarnya, menggambarkan betapa tipisnya ketersediaan individu dengan kemampuan tersebut. Kelangkaan ini mendorong perusahaan-perusahaan teknologi raksasa global untuk berlomba-lomba menawarkan kompensasi yang tak masuk akal demi menarik talenta terbaik.

Pandu memberikan contoh konkret tentang fenomena ini. Ia menyebutkan kasus seorang skilled labor AI yang baru saja berpindah dari OpenAI ke Meta, di mana gaji untuk satu individu tersebut mencapai Rp1 triliun. Ini menunjukkan betapa besarnya investasi yang rela dikeluarkan oleh korporasi teknologi demi mengamankan satu individu dengan keahlian AI yang sangat spesifik dan canggih.
Ia bahkan membandingkan kelangkaan talenta AI ini dengan atlet profesional di liga olahraga elite. "Kalau nonton NBA atau Champions League, talenta AI itu lebih sedikit daripada di situ," kata Pandu. Menurutnya, nilai seorang ahli AI terbaik bahkan bisa melampaui harga satu tim sepak bola penuh, menggarisbawahi urgensi dan daya saing yang luar biasa di sektor ini.
Lebih lanjut, Pandu juga menyoroti tantangan tenaga kerja secara lebih luas. Ia membagi persoalan ini menjadi dua: untuk tenaga kerja unskilled atau berkemampuan rendah, fokus utamanya adalah menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan keterampilan. Sementara itu, untuk talenta highly skilled seperti di bidang AI, tantangannya adalah bagaimana menarik dan mempertahankan mereka di tengah persaingan global yang sangat ketat, sebuah isu yang menjadi perhatian serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

