Chapnews – Ekonomi – Pemerintah Indonesia tengah menyusun strategi darurat untuk membendung ancaman krisis bahan baku plastik yang berpotensi mengguncang stabilitas pasokan kemasan pangan nasional. Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya eskalasi ketegangan di Iran, telah menyebabkan disrupsi signifikan pada ketersediaan nafta, komponen krusial dalam industri plastik berbasis minyak bumi. Sebagai langkah antisipasi, impor dari berbagai negara produsen, termasuk Malaysia, kini menjadi prioritas. (Anggie Ariesta, chapnews.id – Senin, 20 April 2026 | 20:41 WIB)
Krisis global ini bukan sekadar isu industri, melainkan ancaman nyata bagi rantai pasok pangan. Tanpa pasokan plastik yang memadai, harga produk pangan berpotensi melonjak, membebani konsumen di seluruh negeri. Oleh karena itu, pemerintah bergerak cepat memetakan solusi untuk mengamankan kebutuhan plastik kemasan, terutama untuk sektor pangan.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan bahwa Malaysia menjadi salah satu opsi utama yang sedang dijajaki. Penawaran impor plastik kemasan dari Negeri Jiran ini muncul di tengah momentum positif, di mana Indonesia juga tengah merintis peluang ekspor beras ke negara tersebut. "Kami melihat adanya potensi impor plastik dari Malaysia. Tawaran ini sedang kami kaji, mengingat bahan baku utama plastik, yaitu nafta, sangat bergantung pada pasokan minyak bumi global," terang Sam dalam sebuah media briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah.
Penjajakan ini tidak hanya terbatas pada kemasan ritel standar berukuran 5 kilogram. Pemerintah juga melirik teknologi penyimpanan canggih seperti hermetic bag, sebuah inovasi yang diklaim mampu menjaga kualitas beras hingga dua hingga tiga tahun tanpa memerlukan tambahan bahan kimia pengawet. "Bukan hanya kemasan plastik untuk beras 5 kilogram, kami juga mempertimbangkan hermetic bag yang memungkinkan penyimpanan beras dalam jangka waktu sangat lama tanpa penggunaan obat-obatan," imbuhnya.
Meski demikian, Sam Herodian menegaskan bahwa seluruh proses ini masih dalam tahap awal. Pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya bergantung pada satu sumber pasokan, membuka pintu bagi negara produsen lain demi diversifikasi dan ketahanan pasokan jangka panjang. Hal ini penting untuk menghindari ketergantungan dan memastikan pasokan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.
Senada dengan kekhawatiran tersebut, Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengakui adanya guncangan ekonomi politik global yang mulai merembet dan berdampak pada industri pengemasan di Indonesia. Bapanas bahkan telah melakukan simulasi awal terkait potensi lonjakan harga pangan. Hasilnya, jika biaya produksi plastik meningkat hanya 10 persen, dampaknya terhadap harga pangan pokok bisa signifikan, memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

