Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar Rupiah kembali melemah tajam terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (27/2/2026). Mata uang Garuda terperosok 28 poin atau sekitar 0,17 persen, menembus level Rp16.787 per dolar AS. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh serangkaian sentimen negatif global, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa penguatan dolar AS yang menekan Rupiah minggu ini tak lepas dari dinamika di Timur Tengah. Washington dilaporkan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut dan mengeluarkan ancaman tindakan militer jika Teheran tidak bersedia menerima kesepakatan nuklir yang diusulkan. "Pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada hari Kamis tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengisyaratkan akan segera melanjutkan negosiasi, dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina," ujar Ibrahim, seperti dikutip dari laporan chapnews.id.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat turut memperkeruh suasana. Keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif perdagangan era Presiden Donald Trump sempat memberikan sedikit harapan, namun Trump dengan cepat merespons dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda. Ancaman pemberlakuan bea masuk tambahan ini membuat pasar global tetap waspada terhadap potensi gejolak ekonomi yang lebih luas.
Pasar juga tengah mencermati ulang arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Para pembuat kebijakan masih menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap inflasi yang persisten tinggi. Ekspektasi pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada pertemuan Maret dan April. Sementara itu, kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap paling mungkin, kini terlihat semakin tidak pasti. Menurut CME FedWatch Tool, mayoritas pasar kini memandang pertemuan di bulan Juli sebagai waktu yang lebih realistis untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas mencapai sekitar 66 persen.
Dari sisi kebijakan perdagangan domestik AS, Departemen Perdagangan (DOC) pada hari Selasa mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan terhadap sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dugaan subsidi yang mendukung industri di ketiga negara tersebut, menambah daftar sentimen negatif bagi pasar global dan turut menekan kinerja Rupiah.



