Chapnews – Nasional – Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyoroti pembatalan mutasi Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, Pangkogabwilhan I, yang merupakan anak dari mantan Wakil Presiden Try Sutrisno. Kunto yang semula dimutasi menjadi Staf Khusus KSAD, tiba-tiba batal. Hasanuddin mencurigai adanya intervensi politik di balik keputusan tersebut.
"Perubahan mendadak dan pembatalan SK mutasi Letjen Kunto menunjukkan TNI mudah terpengaruh politik. Ini sangat memprihatinkan," tegas Hasanuddin dalam keterangan resminya, Jumat (2/5). Ia menyinggung spekulasi publik yang mengaitkan pembatalan mutasi dengan pernyataan Try Sutrisno dan munculnya calon pengganti Kunto yang disebut-sebut mantan ajudan Presiden Jokowi.

Hasanuddin menekankan, mutasi perwira tinggi seharusnya murni berdasarkan kebutuhan organisasi, bukan tekanan politik atau opini publik. "Ini preseden buruk! Keputusan mutasi harus objektif, bukan karena kepentingan pribadi," ujarnya. Ketidakkonsistenan dan perubahan SK yang cepat, menurutnya, mengganggu stabilitas internal TNI dan kepercayaan publik terhadap netralitas institusi tersebut. TNI, lanjutnya, adalah alat negara, bukan alat politik.
Hasanuddin juga mengkritik Panglima TNI yang dianggapnya tak tegas dan konsisten menjaga marwah institusi. "Kepemimpinan Panglima TNI perlu dievaluasi. Seharusnya sejak awal menolak mutasi Letjen Kunto jika tidak berdasarkan kepentingan organisasi," kritiknya.
Pembatalan mutasi Kunto dan enam perwira tinggi lainnya tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/554.a/IV/2025, yang membatalkan Keputusan sebelumnya Nomor Kep/554/IV/2025. Kapuspen TNI, Brigjen Kristomei Sianturi, menjelaskan pembatalan mutasi dilakukan setelah pertimbangan matang, karena beberapa posisi belum memungkinkan ditinggalkan. Ia menegaskan seluruh proses mutasi berdasarkan kebutuhan organisasi dan mekanisme Wanjakti. Namun, penjelasan tersebut tak cukup meyakinkan Hasanuddin dan DPR.


