Chapnews – Ekonomi – Uji coba penggunaan hidrogen sebagai campuran bahan bakar (cofiring) pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) di Bali menunjukkan hasil yang menjanjikan. Langkah ini menjadi sinyal positif bagi pemanfaatan energi bersih di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa hidrogen dapat menjadi alternatif yang layak untuk mengurangi emisi karbon di sektor pembangkit listrik.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan bahwa implementasi cofiring hidrogen bukan hanya sekadar pencapaian teknis. Ini adalah langkah strategis untuk memantapkan posisi Indonesia Power sebagai pionir teknologi energi bersih di Indonesia. Keberhasilan uji coba di PLTDG UBP Bali ini menjadi bukti kesiapan perusahaan dalam memasuki era transisi energi yang lebih progresif.

"Hidrogen bukan lagi sekadar wacana. Kami telah menguji dan membuktikan bahwa hidrogen dapat diimplementasikan secara nyata dan aman pada aset pembangkitan. Ini adalah fondasi penting bagi upaya kami untuk menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat portofolio energi bersih perusahaan," ujar Bernadus, Rabu (3/12/2025). Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah berkontribusi dan menegaskan komitmen Indonesia Power untuk terus berinovasi demi mendukung target Net Zero Emission 2060.
VP Technology Development PLN Indonesia Power, Hedwig Lunga Sampe Pajung, yang juga bertanggung jawab atas program cofiring hidrogen, menjelaskan bahwa pengujian tahun ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, pengujian hanya dilakukan pada beban penuh (100% kapasitas mesin) dengan rasio cofiring 7%. Namun, pada tahun 2025, pengujian melibatkan tiga variasi beban untuk mendapatkan gambaran performa yang lebih lengkap.
"Pengujian kali ini kami lakukan pada beban 75%, 85%, dan 100% kapasitas mesin. Hasilnya, rasio cofiring hidrogen mencapai 23% pada beban 75%, 22% pada 85%, dan 17% pada 100%. Dengan variasi ini, kami dapat menganalisis perilaku mesin di berbagai kondisi operasi dan menentukan batas maksimum hidrogen yang aman untuk setiap level beban," jelas Hedwig.
Dari sisi teknis, pengembangan difokuskan pada sistem suplai hidrogen melalui penggunaan Pressure Regulator System (PRS) berbasis Programmable Logic Controller (PLC) dan Human Machine Interface (HMI). Sistem ini memungkinkan pengaturan injeksi hidrogen yang lebih akurat, efisien, dan aman. "Dengan kontrol elektronik penuh, proses feeding hidrogen menjadi jauh lebih stabil dan presisi," tambah Hedwig.



