Chapnews – Ekonomi – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat fenomena yang kontras pada periode perdagangan 8-12 Juni 2026. Di tengah euforia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil melesat impresif sebesar 7,38 persen, menembus level 6.007,656, sejumlah saham justru harus menelan pil pahit. Sebanyak 10 emiten tercatat sebagai ‘top losers’, mengalami penurunan harga yang signifikan dan menarik perhatian para pelaku pasar.
Situasi ini menunjukkan adanya tekanan jual yang masif pada segelintir saham dari berbagai sektor, menciptakan disparitas yang mencolok di pasar modal domestik. Ketika mayoritas saham menikmati momentum kenaikan, kelompok ‘top losers’ ini justru menghadapi koreksi tajam, menjadi sorotan utama bagi investor yang mencari peluang atau menghindari kerugian.

Berdasarkan data statistik resmi BEI yang dirilis pada Sabtu (13/6/2026) dan dikutip oleh chapnews.id, posisi puncak sebagai saham dengan penurunan terbesar ditempati oleh PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). Saham emiten ini terjun bebas sebesar 34,09 persen dalam sepekan, anjlok drastis dari harga Rp176 menjadi Rp116 per saham. Penurunan ini menandai sentimen negatif yang sangat kuat terhadap perusahaan tersebut.
Tak hanya DPUM, daftar kerugian juga mencakup PT Roda Vivatex Tbk (RDTX). Meskipun penurunannya tidak setajam DPUM, RDTX tetap mengalami pelemahan signifikan sebesar 13,98 persen. Harga sahamnya bergerak dari posisi pekan sebelumnya di Rp16.625 menjadi Rp14.300 per saham, menunjukkan bahwa tekanan jual juga merata pada beberapa emiten berkapitalisasi menengah ke atas.
BEI mengidentifikasi total 10 saham yang masuk kategori ‘top losers’ pada periode tersebut, menandakan adanya sentimen negatif spesifik atau aksi profit taking yang masif pada emiten-emiten tersebut. Meskipun daftar lengkap ke-10 saham tersebut telah dirilis oleh BEI, DPUM dan RDTX menjadi contoh paling ekstrem dari tekanan jual yang terjadi, memberikan gambaran jelas tentang volatilitas yang tetap ada di pasar saham meskipun indeks utama sedang bullish.


