Chapnews – Nasional – Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kembali dilanda krisis air bersih yang parah, membuat ribuan warganya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, namun tahun ini dampaknya dirasakan lebih berat dan meluas ke berbagai desa.
Musim kemarau panjang yang tak kunjung usai menjadi pemicu utama kelangkaan air di wilayah tersebut. Sumber-sumber air alami seperti sumur dangkal dan mata air banyak yang mengering total, memaksa warga mencari alternatif yang seringkali jauh dan mahal. Beberapa desa dilaporkan harus menempuh jarak berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan beberapa jeriken air.

Antrean panjang warga dengan jeriken dan ember menjadi pemandangan lumrah di titik-titik distribusi air bantuan. Untuk mandi, mencuci, hingga memasak, warga harus berhemat air mati-matian. Kondisi ini tak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius akibat sanitasi yang buruk dan konsumsi air yang tidak layak.
Pemerintah daerah setempat, bekerja sama dengan berbagai pihak, telah berupaya menyalurkan bantuan air bersih menggunakan tangki-tangki. Namun, volume bantuan yang terbatas seringkali belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak secara merata dan berkelanjutan. Sebagian warga bahkan terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling dengan harga yang melambung tinggi, membebani perekonomian keluarga yang sudah sulit.
Krisis air di Indramayu ini menyoroti urgensi solusi jangka panjang, mulai dari revitalisasi infrastruktur air, pembangunan embung penampung air hujan, hingga edukasi masyarakat tentang konservasi air. Tanpa langkah konkret dan terpadu, ancaman kekeringan akan terus menghantui warga Indramayu setiap musim kemarau tiba, seperti dilaporkan oleh chapnews.id.


