Chapnews – Nasional – Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberikan respons yang sangat positif terhadap langkah strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam menyelaraskan arah riset dengan kebutuhan industri dan penyelesaian persoalan bangsa. Dalam gelaran Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI di Jakarta, berbagai terobosan inovasi prioritas yang dipaparkan BRIN mendapat apresiasi tinggi dari para legislator, sekaligus menguatkan dukungan parlemen untuk penguatan anggaran riset dan inovasi.
Kepala BRIN, Arif Satria, yang memimpin pemaparan, mengawali sesinya dengan menekankan pentingnya forum komunikasi riset dan inovasi antarlembaga. Menurutnya, keberadaan forum ini krusial untuk mencegah tumpang tindih program dan memastikan bahwa setiap riset benar-benar terarah pada solusi konkret bagi permasalahan negara. "BRIN hadir untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat, mulai dari mitigasi bencana, ketahanan pangan, hingga transisi energi berkelanjutan. Inovasi kita harus berdampak langsung, tidak hanya berhenti di meja publikasi," tegas Arif Satria di Jakarta (12/6).

Dalam kesempatan tersebut, BRIN memamerkan sejumlah lompatan teknologi yang menjanjikan. Di sektor mitigasi bencana, diperkenalkan Teknologi Peredam Gempa inovatif yang dirancang untuk meningkatkan resiliensi infrastruktur di wilayah rawan. Sementara itu, untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, periset BRIN berhasil mengembangkan varietas padi Biosalin yang toleran terhadap salinitas tinggi, sebuah penopang kedaulatan pangan nasional. Menanggapi hal ini, anggota dewan memberikan masukan konstruktif, berharap riset pangan terus diperbaiki demi menghasilkan varietas dengan kualitas dan produktivitas yang lebih unggul.
Lebih lanjut, untuk mengatasi isu tata kelola kawasan urban dan penyediaan energi baru, implementasi fasilitas pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL) terus digenjot. BRIN juga memperkenalkan gagasan ekosistem kolaborasi bertajuk Rumah Inovasi Indonesia, sebuah platform strategis yang dirancang sebagai jembatan penghubung antara hasil riset peneliti dengan ekosistem industri, investor, serta jejaring filantropi, guna mengakselerasi hilirisasi produk teknologi.
Komisi X DPR RI turut memberikan sejumlah catatan krusial terhadap strategi inovasi BRIN. DPR menggarisbawahi pentingnya pendekatan sosiologi masyarakat dalam penerapan teknologi hasil riset di lapangan, agar inovasi yang lahir tidak menemui resistensi budaya dan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh publik. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah, secara khusus menyoroti urgensi kesinambungan program, menegaskan bahwa inovasi BRIN harus terus berkelanjutan dan pantang terhenti di tengah jalan akibat pergantian kepemimpinan. Selain itu, wakil rakyat mendesak agar riset BRIN difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat, terutama di bidang kesehatan, dengan permintaan spesifik untuk riset pengobatan penyakit diabetes mengingat tingginya angka penderita di Indonesia.
Merespons beragam target dan terobosan cemerlang ini, Arif Satria menyoroti perlunya modernisasi masif terhadap fasilitas laboratorium agar peneliti Indonesia mampu bersaing di kancah global. Untuk itu, Kepala BRIN secara resmi mengajukan usulan penguatan anggaran kepada parlemen, yang difokuskan sepenuhnya untuk pembaruan dan revitalisasi fasilitas vital nasional, termasuk infrastruktur ketenaganukliran untuk keperluan energi, industri, dan kesehatan.
Menanggapi paparan tersebut, Hetifah dengan tegas menyatakan bahwa Komisi X DPR RI mendukung penuh penguatan anggaran BRIN. "Riset dan inovasi adalah hal yang sangat penting untuk pembangunan nasional. Alokasi pendanaan untuk riset harus dipandang sebagai investasi fundamental jangka panjang, bukan sekadar beban pengeluaran," ujarnya. Sebagai bentuk dukungan dan pengawasan nyata, Komisi X DPR RI berencana akan segera melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung berbagai inovasi BRIN yang telah berjalan.


