Chapnews – Ekonomi – PT Dairi Prima Mineral (DPM) menunjukkan komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan dengan mengadopsi metode penambangan bawah tanah modern, yaitu backfilling mining. Pendekatan ini tidak hanya mengutamakan keselamatan kerja para karyawan, tetapi juga secara tegas menempatkan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama, menandai sebuah langkah progresif dalam industri ekstraktif.
Metode cut and fill mining yang diterapkan DPM memiliki keunggulan signifikan karena meminimalkan pembukaan lahan di permukaan. Hal ini krusial untuk menjaga kelestarian hutan dan ekosistem di sekitarnya. DPM menegaskan bahwa sistem backfill tailing yang mereka gunakan bukan sekadar berfungsi menjaga stabilitas area tambang, melainkan juga menjadi pilar utama dalam upaya perlindungan lingkungan serta pemenuhan regulasi yang ketat.

Dalam implementasinya, material backfill dimanfaatkan untuk mengisi kembali ruang-ruang kosong (void) bekas penambangan. Proses ini esensial untuk memperkuat massa batuan, secara drastis mengurangi risiko runtuhan, dan memastikan keselamatan para pekerja. Lebih jauh, sistem ini juga berperan penting dalam menjaga kualitas air tanah melalui serangkaian pemantauan berkala, pengujian kualitas (QA/QC) yang ketat, evaluasi lingkungan berkelanjutan, serta pelaporan yang terdokumentasi rapi. Seluruh upaya ini menegaskan komitmen DPM terhadap operasi pertambangan yang aman, patuh, dan berkelanjutan.
Pakar dari LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Iskandar, dalam sebuah diskusi bertajuk "Tambang Bawah Tanah Modern – Perspektif Sains, Hukum, Teknologi dan Perlindungan Lingkungan" yang digelar baru-baru ini, turut mengamini keunggulan konsep tambang bawah tanah modern. Menurutnya, metode ini membutuhkan "jejak" kerusakan atau gangguan yang jauh lebih kecil di permukaan dibandingkan tambang terbuka.
"Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint kerusakan atau footprint gangguan di permukaan itu kecil. Di mana kita membutuhkan space di permukaan untuk tempat tinggal, pertanian, dan aktivitas lainnya, gangguannya menjadi jauh lebih kecil. Ini langkah positif yang bisa disebut sebagai tambang bawah tanah modern," jelas Irwan, seperti dikutip dari chapnews.id.
Irwan menambahkan, aspek krusial lain yang membedakan praktik pertambangan modern adalah pengelolaan sisa hasil pengolahan (tailing). Jika di masa lalu tailing umumnya berakhir di tempat pembuangan khusus (tailing dump), kini DPM memilih untuk mengembalikannya ke dalam ruang bekas tambang sebagai material backfill.
"Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump. Tailing dump memiliki risiko karena setelah tambang selesai, material itu tetap berada di sana sepanjang waktu. Kita belajar dari berbagai mining disaster di dunia, termasuk yang terjadi di Brasil pada 2019," tegas Irwan, menyoroti pentingnya mitigasi risiko jangka panjang.
Meski demikian, Irwan Iskandar tidak menampik bahwa setiap kegiatan pertambangan pasti memiliki dampak terhadap lingkungan. Namun, ia menekankan bahwa inti permasalahannya terletak pada bagaimana dampak tersebut dapat dikelola secara efektif melalui penerapan teknologi mutakhir dan pengawasan yang cermat.
"Tambang juga punya dampak. Harus dipahami dampaknya, tetapi dampak itu harus bisa kita kelola. Salah satu yang paling penting adalah persoalan air, baik air permukaan maupun air tanah," pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya manajemen sumber daya air dalam operasi pertambangan yang bertanggung jawab.

