Chapnews – Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan awal pekan, Senin (6/7/2026), meskipun laju kenaikannya mungkin tidak sefantastis penutupan Jumat (3/7/2026) yang melonjak 2,28% ke level 5.875. Momentum positif ini, menurut para ahli, didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang kian membaik.
Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, menjelaskan bahwa potensi penguatan tersebut masih sangat terbuka. "Untuk perdagangan Senin (6/7/2026), kami memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 5.840 hingga 5.950, dengan level krusial 5.900 sebagai titik uji psikologis," ungkap Hendra dalam wawancaranya dengan iNews Media Group pada Minggu (5/7/2026). Ia menegaskan, peluang penguatan lebih lanjut akan tetap terbuka lebar selama indeks mampu bertahan di atas area support 5.830-5.850.

Sentimen positif ini ditopang oleh beberapa faktor fundamental. Dari sisi eksternal, Hendra merinci, pasar global memberikan respons positif terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang ternyata lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini memicu harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan lagi terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, investor kembali mengalihkan fokus ke aset-aset berisiko, termasuk pasar saham di negara-negara berkembang. Optimisme ini semakin diperkuat oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) di berbagai negara Asia yang tetap berada di zona ekspansi, menunjukkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut tetap solid. Selaras dengan itu, bursa-bursa saham di Asia kompak menguat, dan nilai tukar rupiah juga ikut terapresiasi hingga menyentuh kisaran Rp17.962 per dolar AS, memberikan dorongan sentimen positif bagi pasar domestik.
Sementara itu, dari ranah domestik, Hendra menambahkan, penguatan indeks didukung oleh kinerja positif hampir di seluruh sektor. Sektor perindustrian menjadi lokomotif utama pendorong kenaikan ini, diiringi oleh aktivitas bargain hunting atau pembelian saham-saham yang sebelumnya telah terkoreksi cukup dalam, menawarkan potensi keuntungan bagi investor. Faktor-faktor seperti ekspektasi kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif, stabilitas harga minyak dunia, apresiasi mata uang regional, dan optimisme kuat terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia turut menjadi pendorong utama bagi pergerakan IHSG.

