Chapnews – Nasional – Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini tengah berjuang pulih dari terjangan banjir bandang yang meluas, merendam 23 desa di 10 kecamatan berbeda dan menelan satu korban jiwa. Bencana alam ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari berturut-turut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edi Budi Susilo, pada Sabtu (14/2), mengonfirmasi bahwa jumlah kecamatan terdampak telah bertambah dari delapan menjadi sepuluh, berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC). "Alhamdulillah, saat ini genangan air sudah mulai surut di sebagian besar lokasi," ujar Edi, seperti dikutip chapnews.id.

Intensitas hujan yang sangat tinggi sejak Kamis (12/2) sore hingga Jumat (13/2) dini hari menjadi pemicu utama, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan meluap ke area permukiman warga. Sepuluh kecamatan yang dilaporkan terdampak meliputi Panti, Sukorambi, Rambipuji, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, Balung, Wuluhan, dan Puger.
Data BPBD Jember mencatat, total 7.445 kepala keluarga (KK) mengalami dampak langsung dari banjir ini. Kecamatan Rambipuji menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbanyak, mencapai 3.774 KK. Di antara ribuan warga tersebut, terdapat kelompok rentan seperti 74 balita, 82 lansia, dan 4 penyandang disabilitas yang memerlukan perhatian khusus.
Tragedi memilukan terjadi di tengah kepungan banjir. Siti Nurfadila (55), warga Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, ditemukan meninggal dunia setelah tersengat listrik saat berupaya membersihkan rumahnya di tengah genangan air pada Kamis (12/2) malam.
Selain korban jiwa, banjir juga meninggalkan jejak kerusakan infrastruktur yang signifikan. Sebanyak 11 rumah mengalami rusak ringan, tiga jembatan ambruk total, satu pondok pesantren terendam, satu masjid ambruk, satu balai desa tergenang, serta satu sekolah taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) ikut terendam. Tak hanya itu, satu Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) juga terendam, dan 12 unit speedboat hanyut terbawa derasnya arus banjir.
Meskipun sempat menyebabkan 557 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, Edi Budi Susilo memastikan bahwa seluruh warga kini telah kembali ke rumah masing-masing untuk memulai proses pembersihan pascabanjir.
BPBD Jember bersama sejumlah perangkat daerah terkait telah bergerak cepat dalam penanganan bencana, termasuk menyalurkan bantuan logistik esensial kepada warga yang terdampak di sepuluh kecamatan tersebut.
Menyikapi kondisi ini, Edi Budi Susilo mengimbau seluruh masyarakat Jember untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga 20 Februari 2026, menuntut kesiapsiagaan dari semua pihak.



