Chapnews – Ekonomi – Ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini mulai menimbulkan ancaman serius bagi rantai pasok global. Konflik yang terus bereskalasi ini secara langsung mengganggu jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah, mengakibatkan dampak berantai yang signifikan bagi industri logistik dunia. Kondisi ini tidak hanya memicu lonjakan signifikan pada biaya operasional, tetapi juga perpanjangan waktu pengiriman barang yang tak terhindarkan.
Reef Man, CEO HMS Group, menyebut situasi ini sebagai "survival business" atau tantangan kelangsungan bisnis yang mendesak, bukan sekadar isu geopolitik biasa. Sejak eskalasi konflik memuncak akhir pekan lalu, perusahaan logistik di seluruh dunia terpaksa mengalihkan rute kapal kargo mereka melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Pengalihan rute ini, menurut Reef Man, menambah waktu transit hingga lebih dari dua pekan. "Saat ini kondisi sangat tidak kondusif, sehingga hampir semua pelayaran menghentikan layanan ekspor ke Timur Tengah maupun sebaliknya," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Selat Hormuz: Urat Nadi Perdagangan Terancam
Reef Man menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan "urat nadi" perdagangan internasional yang sangat vital, mengingat lebih dari seperempat pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari. Penutupan atau gangguan serius pada jalur vital ini secara otomatis akan memutus akses pasar ke negara-negara Timur Tengah, menciptakan krisis pasokan yang berpotensi melumpuhkan ekonomi global.
Menghadapi skenario terburuk, HMS Group telah menyiapkan strategi mitigasi inovatif, salah satunya melalui metode Sea-Air (Laut-Udara). Pendekatan ini dirancang untuk memastikan pergerakan barang tetap lancar meskipun jalur laut utama terganggu. "Kami mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan," tambah Reef. "Misalnya, pengiriman barang dilakukan melalui jalur laut hingga pelabuhan Jeddah, Arab Saudi, kemudian dilanjutkan dengan transportasi darat menggunakan truk, atau dikombinasikan dengan pengiriman udara untuk efisiensi waktu."
Ekspansi ke Vietnam: Hub Strategis di Tengah Ketidakpastian
Di tengah ketidakpastian global yang melanda, HMS Group tidak tinggal diam. Perusahaan ini mengambil langkah strategis dengan melakukan ekspansi signifikan ke Vietnam. Langkah ini bukan hanya sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko, tetapi juga optimalisasi potensi pasar di Asia Tenggara yang terus berkembang.
Setelah sukses membangun hub logistik yang kuat di Singapura, HMS Group kini membidik Vietnam. Negara ini dikenal dengan pertumbuhan sektor manufakturnya yang pesat, menarik banyak investasi dari perusahaan-perusahaan global yang mencari alternatif di luar Tiongkok. Ekspansi ini diharapkan dapat memperkuat posisi HMS Group dalam menghadapi gejolak pasar dan menjaga stabilitas rantai pasok bagi para pelanggannya.


