Ads - After Header

Lampung Pimpin Ekonomi Hijau: Singkong Jadi Kunci!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Jakarta – Indonesia tengah gencar mengembangkan ekosistem ekonomi hijau, khususnya di sektor pertanian dan industri pengolahan. Provinsi Lampung menjadi garda terdepan dalam implementasi inisiatif ini, dengan fokus pada komoditas singkong. Terpilihnya Lampung bukan tanpa alasan; provinsi ini memiliki fondasi pertanian dan agroindustri yang sangat kokoh. Sebagai produsen singkong terbesar di Tanah Air, dengan volume produksi mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun, serta didukung oleh industri pengolahan tepung tapioka yang vital bagi perekonomian lokal, Lampung dinilai memiliki kapasitas besar untuk menjadi proyek percontohan nasional dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis pertanian.

Inisiatif strategis ini selaras dengan komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement dan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 mengenai Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon. Regulasi ini secara aktif mendorong pembangunan rendah karbon, fasilitasi perdagangan karbon, serta pembiayaan iklim di seluruh wilayah Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners, Yayang Ruzaldy, menegaskan bahwa peran ESGIN melampaui sekadar pengembang proyek karbon. Pihaknya berkomitmen sebagai investor utama yang berupaya membangun infrastruktur ekonomi hijau secara komprehensif.

Lampung Pimpin Ekonomi Hijau: Singkong Jadi Kunci!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Yayang Ruzaldy optimistis, Lampung memiliki semua prasyarat untuk bertransformasi menjadi pusat ekonomi hijau berbasis pertanian di Indonesia. ESGIN berkomitmen penuh untuk menanamkan investasi pada berbagai proyek strategis yang tidak hanya menjanjikan keuntungan ekonomi, tetapi juga dampak positif bagi lingkungan. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture), produksi Biochar, hingga inisiatif Pengurangan Metana (Methane Removal Project) di sektor industri pengolahan tepung tapioka. "Dengan mengintegrasikan investasi, Digital MRV (Monitoring, Reporting, and Verification), Artificial Intelligence, teknologi blockchain, Green Finance, dan Carbon Market, kami bertekad menciptakan model pembangunan yang holistik. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, sekaligus mendukung target Net Zero Emission Indonesia," papar Yayang dalam keterangan resminya di Jakarta.

Yayang menambahkan, kolaborasi ini merupakan bukti konkret bagaimana investasi berwawasan lingkungan mampu merajut sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan menjadi satu kesatuan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai langkah konkret pasca-penandatanganan nota kesepahaman, berbagai pihak terkait akan segera memulai penyusunan studi kelayakan (Feasibility Study), mengidentifikasi lokasi-lokasi proyek prioritas, menyusun dokumen proyek karbon, mengimplementasikan sistem Digital MRV, serta mengembangkan skema pembiayaan hijau. Langkah-langkah ini krusial untuk mempercepat realisasi investasi. Diharapkan, kerja sama ini akan menjadi model percontohan nasional untuk pengembangan proyek hijau di sektor pertanian dan agroindustri. Model ini tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara simultan, tetapi juga akan memantapkan posisi Lampung sebagai pionir dalam implementasi nilai ekonomi karbon di Indonesia.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer