Chapnews – Ekonomi – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan sebuah terobosan signifikan yang berpotensi mengubah lanskap energi rumah tangga di Indonesia. Bahlil menargetkan produksi gas Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan 3 kilogram akan dimulai pada bulan Juli mendatang. Langkah strategis ini diharapkan mampu menekan angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang selama ini menjadi beban besar bagi neraca perdagangan negara.
Menurut Bahlil, Indonesia sejatinya memiliki cadangan gas alam yang melimpah ruah. Namun, keterbatasan teknologi dan infrastruktur distribusi menjadi kendala utama dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik tersebut untuk kebutuhan masyarakat luas. Kehadiran CNG sebagai substitusi LPG diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Saat ini, pemanfaatan CNG untuk tabung berukuran 3 Kg masih dalam tahap uji coba intensif. Mengingat karakteristik CNG yang memiliki tekanan lebih tinggi dibandingkan LPG, aspek keamanan menjadi perhatian utama dan perhitungan matang pemerintah. Uji coba ini krusial untuk memastikan bahwa penggunaan di sektor rumah tangga dapat berlangsung dengan aman dan minim risiko.
"Sekarang kita lagi uji tahap ketiga, mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi," ujar Bahlil dalam sebuah forum energi di Jakarta, Kamis lalu, seperti dikutip chapnews.id.
Bahlil menjelaskan, selama ini penggunaan CNG lebih banyak terfokus pada sektor industri, yang tersedia dalam kemasan 12 dan 50 Kg. Namun, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan ukuran 3 Kg, pengembangan dan pengujian faktor keamanan menjadi prioritas.
Untuk meningkatkan standar keselamatan penggunaan CNG ukuran 3 Kg, rencananya setiap tabung akan dilengkapi dengan semacam katup khusus. Katup ini berfungsi mengatur aliran gas keluar, dirancang untuk menahan potensi ledakan yang ukurannya bisa lebih besar dibandingkan gas LPG, sehingga memberikan jaminan keamanan ekstra bagi para pengguna.


