Chapnews – Nasional – Polemik pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) soal laki-laki bercelana ukuran 33-34 ke atas lebih cepat menghadap Tuhan kembali menjadi sorotan. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (KPKP), Hasan Nasbi, turun tangan membela pernyataan kontroversial tersebut. Menurut Hasan, pernyataan BGS dilandasi data program cek kesehatan gratis (CKG) yang menunjukkan tingginya angka diabetes di Indonesia.
"Pernyataan soal ukuran celana itu hanya untuk memudahkan pemahaman publik," jelas Hasan dalam diskusi di Menteng, Jakarta, Sabtu (17/5). Ia menambahkan, penggunaan istilah ukuran celana lebih mudah dipahami masyarakat ketimbang istilah medis seperti BMI (Body Mass Index) dalam menjelaskan masalah obesitas. "Walaupun mungkin terdengar kurang pantas, ukuran celana jadi patokan yang mudah dimengerti," imbuhnya.

Hasan menegaskan, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas kesehatan dan harapan hidup masyarakat dengan mengatasi penyakit-penyakit kronis, termasuk diabetes. Kampanye gaya hidup sehat, menurutnya, dikemas dengan bahasa populer agar mudah diterima masyarakat. "Tujuannya agar masyarakat lebih sehat dan produktif," tegasnya.
Sebagai contoh, Hasan mencontohkan Jepang yang telah lama mengkampanyekan hidup sehat dengan regulasi "Metabolic Law". Regulasi tersebut mewajibkan pengukuran lingkar perut berkala bagi penduduk berusia 40 tahun ke atas, dengan batas 85 cm untuk laki-laki dan 90 cm untuk perempuan. "Jika melebihi batas, mereka diwajibkan mengikuti program kesehatan," tambah Hasan.
Sebelumnya, pernyataan BGS yang mengaitkan ukuran celana dengan risiko kesehatan menuai kritik. Dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI, Rabu (14/5), BGS menyebut laki-laki yang mengenakan celana ukuran 33-34 ke atas berisiko obesitas dan berujar, "Itu menghadap Allah-nya lebih cepat." Pernyataan tersebut dikutip dari chapnews.id. (dhf/agt)


